Pemerintah Tambah Anggaran Rp 9,7 T buat Vaksin Corona

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 25 Nov 2020 14:51 WIB
Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin
Foto: Budi Gunadi Sadikin/Foto: Rachman Haryanto/detik.com
Jakarta -

Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) menambahkan anggaran sektor kesehatan dalam program PEN sebesar Rp 9,71 triliun. Tambahan itu digunakan untuk mendukung program vaksinasi COVID-19.

Ketua Satgas PEN sekaligus Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin menerangkan, tambahan anggaran itu merupakan hasil alokasi dari keseluruhan anggaran PEN yang sebesar Rp 695,2 triliun. Dengan begitu, anggaran sektor kesehatan dalam PEN yang sebelumnya Rp 87,55 triliun, bertambah menjadi Rp 97,26 triliun.

"Kami juga meningkatkan program di sektor kesehatan yang ditingkatkan menjadi Rp 97,26 triliun dari sebelumnya Rp 87,55 triliun. Kenaikan yang cukup besar di sektor kesehatan ini, dikarenakan rencana kita untuk melakukan program vaksinasi," kata Budi dalam konferensi pers virtual KPC-PEN, Rabu (25/11/2020).

Selain anggaran kesehatan, pemerintah juga meningkatkan anggaran untuk program perlindungan sosial.

"Kami melakukan sedikit realokasi dari anggaran PEN, untuk memberikan fokus yang lebih besar lagi kepada program perlindungan sosial yang meningkatkan menjadi Rp 234,33 triliun dari sebelumnya sebesar Rp 203,90 triliun," urainya.

Sebagai informasi, saat ini pemerintah berupaya mempercepat penyediaan vaksin di Indonesia. Pemerintah akan mengadakan vaksin yang sudah terdaftar di WHO. Sebelumnya, Budi menjelaskan sudah ada 11 perusahaan yang melakukan uji coba vaksin tahap 3 dan terdaftar di WHO.

Dari 11 perusahaan, hanya 3 saja yang belum dihubungi pemerintah. Perusahaan itu adalah Moderna, Sputnik, dan Bharat.

"Semua sudah kita kontak, kecuali 3. Satu Moderna di AS belum ada kontak dengan kita, dua Sputnik di Rusia belum kontak formal, lalu Bharat dari India, yang lain udah ada kontak dari kita," ujar Budi dalam webinar CEO Networking 2020, Selasa (24/11/2020).

Budi juga memaparkan beberapa perusahaan vaksin yang sudah dihubungi oleh pemerintah. Ada yang dari Jerman, Inggris, hingga China.

"Jadi misalnya BioNtech sudah dari Jerman, AstraZeneca sudah. Di China ada 4 Sinofarm Beijing, Sinofarm Wuhan, Sinovac, dan Casino sudah kontak," papar Budi.

(ara/ara)