Bikin JK Ngerasa Gagal 2 Kali Jadi Wapres, Begini Data Perokok RI

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 09 Des 2020 13:45 WIB
Pedagang asongan dan perwakilan petani menolak perayaan hari tanpa
tembakau yang jatuh hari ini. Menurut mereka, kampanye anti tanpa
tembakau berniat memberangus budaya merokok kretek yang telah
membudaya beratus-ratus tahun. Rp 70 triliun cukai rokok mampu
menjamin kesehatan para perokok, bila pajaknya dikelola dengan benar.file/detikcom.
Foto: Adi Saputra
Jakarta -

Jusuf Kalla (JK) mengakui ada hal yang membuat dia merasa gagal menjadi wakil presiden. JK sendiri 2 kali menjabat sebagai wapres yakni saat mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo (Jokowi), pada periode pertama.

Kegagalan yang dimaksud JK adalah menurunkan konsumsi rokok di masyarakat. Meskipun sudah berbagai upaya dia lakukan.

Memang rokok sampai saat ini masih menjadi permasalahan di Indonesia. Bahkan bukannya berkurang, jumlah perokok pemula justru terus meningkat setiap tahunnya.

Menurut data Ketua badan khusus pengendalian tembakau Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), dr Widyastuti Soerojo, MSC, dalam satu dekade terakhir jumlah perokok pemula meningkat hingga 240%. Hal itu pernah disampaikannya pada 12 Februari 2020 lalu.

"Dalam satu dekade terakhir peningkatannya 240%, dari 9,6 persen tahun 2007 menjadi 23,1 persen tahun 2018. Jadi dalam 11 tahun itu peningkatannya 240 persen pada usia SD, SMP 10-14 tahun. Usia yang lebih tua 15-19 naiknya 140 persen," kata dr Widyastuti.

dr Widyastuti juga menjelaskan salah satu faktor penyebab dari tingginya angka perokok pemula adalah masifnya iklan rokok di masyarakat.

"Karena iklan yang masif, aksesnya mudah, harganya murah dan dan bisa beli batangan," pungkasnya.



Simak Video "Kemenko PMK: 25,9% Pemuda Merokok, Asal Muasal Penyalahgunaan Narkoba"
[Gambas:Video 20detik]
(das/dna)