Perusahaan Asal Kanada Mau Buat Teknologi Daur Ulang Baterai Lithium

Vadhia Lidyana - detikFinance
Minggu, 13 Des 2020 22:31 WIB
baterai iphone
Ilustrasi Baterai Lithium (Foto: iFixit)
Jakarta -

Berbagai perusahaan raksasa kelas dunia mulai melirik bisnis baterai lithium. Berdasarkan data perusahaan asal Kanada, Li-Cycle, sebanyak 500.000 ton baterai lithium digunakan secara global per hari untuk ponsel atau tablet pintar.

Namun, seiring berjalannya waktu, kini baterai lithium juga mulai digunakan untuk peralatan rumah tangga, mobil listrik, hingga truk. Dilansir dari CNBC, Minggu (13/12/2020), maraknya penggunaan litium-ion itu diproyeksi meningkatkan penggunaan baterai lithium hingga 10 kali lipat pada tahun 2030. Sebagian besar ledakan itu berasal dari penggunaan kendaraan listrik.

Oleh karena itu, Li-Cycle yang merupakan perusahaan pendaur ulang baterai lithium tengah mencari jalur logistik yang tepat untuk pengangkutan baterai. Perusahaan tersebut juga masih berupaya mengembangkan teknologi peremajaan baterai lithium tanpa merusak sepenuhnya.

"Kami menghabiskan semua uang ini untuk menghasilkan baterai, membuat bahan kimia, dan kemudian kami membakarnya di akhir proses, dan itu tidak benar," kata Founder dan CEO Li-Cycle Tim Johnston.

Menambahkan Tim, Co-Founder dan Presiden Li-Cycle Ajay Kochhar melihat masalah itu sebagai peluang untuk mengganti rantai pasokan yang rapuh dan bermasalah saat ini dengan sistem yang lebih efisien. Sistem yang menciptakan baterai untuk generasi berikutnya dari bahan baku baterai yang digunakan oleh generasi saat ini.

Dan perusahaan tersebut tidak akan mendaur ulang hanya untuk mendaur ulang. Apalagi, pasar untuk daur ulang baterai lithium-ion saja bisa bernilai US$ 18 miliar atau sekitar Rp 254 triliun (kurs Rp 14.100) setiap tahunnya mulai tahun 2030.

(dna/dna)