ADVERTISEMENT

Saat Dahlan Iskan Lebih Pilih Vaksin Sinovac Daripada Pfizer

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 14 Des 2020 13:12 WIB
Vaksin Covid-19: Negara-negara termiskin di dunia tak boleh terinjak-injak dalam perebutan vaksin corona, menurut WHO
Ilustrasi/Foto: BBC World
Jakarta -

Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan bicara soal perbandingan vaksin Corona Sinovac dan Pfizer. Di antara kedua vaksin dari China dan Amerika Serikat itu, Dahlan menyoroti soal modifikasi gen.

Dahlan mengaku lebih memilih vaksin Sinovac dibanding keluaran Pfizer, pasalnya vaksin Sinovac dibuat dengan cara melemahkan virus Corona. Di sisi lain, vaksin keluaran Pfizer merupakan hasil modifikasi gen.

"Tentu saya memilih Sinovac. Dibanding Pfizer. Dengan logika saya sendiri. Tentu saya bukan ahli menilai, apalagi menilai obat, termasuk vaksin. Tapi publik dunia sudah tahu, vaksin Sinovac berasal dari virus Covid yang dilemahkan. Sedang vaksin Pfizer dari modifikasi gen," ujar Dahlan dikutip dari catatannya di website disway.id, Senin (14/12/2020).

Meski begitu, apabila vaksin yang tersedia hanya vaksin yang merupakan hasil modifikasi gen dia mengaku akan tetap memakainya. Menurutnya, yang penting pandemi Corona cepat berakhir.

Dahlan mengatakan dirinya tidak ingin kejadian pandemi flu Spanyol di medio 1918 yang lalu terulang. Pasalnya, kalau hal itu terulang tanpa adanya upaya vaksinasi, menurutnya akan ada 100 juta orang di Indonesia yang kehilangan nyawanya.

"Yang penting pandemi ini harus berakhir lebih cepat. Juga lebih sedikit korbannya. Jangan mengulang pandemi tahun 1918 yang korbannya sepertiga penduduk, flu Spanyol itu," ujar Dahlan.

Dahlan melanjutkan, ilmu pengetahuan harusnya selalu bisa mengatasi berbagai persoalan yang terjadi di dunia. Di mencontohkan, di awal 1900-an, menurutnya ilmu pengetahuan berhasil mengatasi ramalan para ahli di Inggris tentang punahnya manusia akibat kekurangan pangan.

Namun, seorang ilmuwan Jerman menemukan cara pembelahan unsur kimia nitrogen dan berujung pada ditemukannya inovasi berupa pupuk untuk menyuburkan tanaman. Masalah pun bisa diselesaikan dengan ilmu pengetahuan.

"Ilmu pengetahuan akan selalu bisa mengatasi persoalan, mestinya. Seperti di awal tahun 1900-an. Para ahli di Inggris meramalkan punahnya manusia akibat kekurangan pangan yang berat. Itu didasarkan statistik pertumbuhan penduduk dibanding produksi pangan dunia. Tapi seorang ahli di Jerman, Yahudi, kemudian menemukan cara pembelahan 'N'. Itulah awal dari ditemukannya pupuk," tulis Dahlan.

"Kenyataannya, produksi pangan bisa melebihi kebutuhan, tinggal punya uang atau tidak untuk membelinya," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT