Mau Saingi SpaceX, Lockheed Martin Akuisisi Produsen Rudal Rp 62 Triliun

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 21 Des 2020 09:06 WIB
UNDATED:  (FILE PHOTO) This undated photo from the Lockheed Martin corporation shows the U-2 reconnaissance aircraft. The U-2s unusually long wingspan allows the aircraft to fly like a glider for long distances at high altitude to gather intelligence information such as ground surveillance. According to the United Nations a U-2, operated by the United States but baring markings of the United Nations was flown over Iraq on February 17, 2003 in conjunction with United Nations weapons inspections. (Photo by Lockheed Martin/Getty Images)
Foto: Lockheed Martin/Getty Images
Jakarta -

Produsen pesawat Lockheed Martin Corp setuju untuk mengakuisisi produsen mesin roket Aerojet Rocketdyne Holdings Inc senilai US$ 4,4 miliar, termasuk utang dan uang tunai bersih. Nilai tersebut setara Rp 62,2 triliun (kurs Rp 14.142/US$).

Melansir Reuters, Senin (21/12/2020), kesepakatan itu adalah akuisisi terbesar Lockheed sejak Jim Taiclet menjabat kepala eksekutif pada bulan Juni. Dia berusaha untuk meningkatkan kemampuan propulsi perusahaan di tengah persaingan dari pendatang baru seperti SpaceX dan Blue Origin, untuk kontrak luar angkasa dengan pemerintah AS.

"Akuisisi Aerojet Rocketdyne akan melestarikan dan memperkuat komponen penting dari basis industri pertahanan domestik dan mengurangi biaya bagi pelanggan kami dan pembayar pajak Amerika," kata Taiclet dalam sebuah pernyataan.

Lockheed mengatakan akan membayar US$ 56 per saham untuk Aerojet Rocketdyne. Harga beli akan dikurangi menjadi US$ 51 per saham setelah pembayaran dividen khusus pra-penutupan.

Perusahaan yang berbasis di Bethesda, Maryland telah menggunakan sistem propulsi Aerojet Rocketdyne dalam penawaran aeronautika, rudal, dan fire control offerings.

Lockheed mengatakan transaksi tersebut akan diawasi oleh regulator mengingat posisi terdepan perusahaan bergerak di sektor pertahanan.

(toy/zlf)