Pengusaha Rokok Elektrik di China Makin Tajir di Tengah Pandemi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 22 Des 2020 23:39 WIB
Non carcinogenic alternative for smoking
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Industri rokok elektrik di China kian menjamur. Mengutip Bloomberg, pandemi COVID-19 tak menyurutkan bisnis rokok elektrik, malah justru membuatnya semakin besar.

RELX salah satu pemain terbesar di China bahkan membuka lebih dari 1.000 toko pada paruh pertama tahun 2020 dan menyebut Januari tahun depan akan menambah 10.000 gerai.

Pesaing RELX, Yooz juga menyebut akan melebarkan ekspansi toko. Hal ini merupakan kabar baik untuk Smoore International Holdings Ltd, perusahaan pembuat perangkat komponen vaping terbesar di seluruh dunia.

Saham perusahaan ini naik empat kali lipat sejak Juli lalu bahkan menjadi perusahaan dengan penawaran umum yang paling baik di Hong Kong Tahun ini.

Analis Great Wall Securities Zhang Xiao mengungkapkan jika RELX dan Yooz di China berhasil menguasai pasar offline rokok elektrik dengan kecepatan yang luar biasa. "Mereka bahkan menggandakan jumlah toko mereka lebih dari dua kali lipat dalam tahun ini, kedua perusahaan ini merupakan klien Smoore," jelasnya.

Sementara itu pendiri Smoore, Chen Zhiping mencatatkan kenaikan kekayaan bersih menjadi US$ 14,2 miliar. Chen mendirikan Smoore pada 2009 lalu, satu dekade setelah dia lulus dari Universitas Tongji Shanghai dengan jurusan pemasaran.

Dia mulai membangun perusahaan rokok elektrik di Shenzhen sebuat kota yang berada di perbatasan Hong Kong. Saat itu dia mendapatkan support dari pemerintah untuk menggerakkan perekonomian.

Meskipun Corona sempat mempengaruhi penjualannya, namun Smoore masih mencatat pendapatan naik hingga 19% menjadi US$ 592 juta dalam enam bulan pertama.

Analis Daiwa Capital Market di Hong Kong Carlton Lai mengungkapkan pertumbuhan Smoore ini tetap terjadi walaupun ada tekanan perekonomian secara global.

(kil/hns)