Pertamina & Kimia Farma Duet Bangun Pabrik Paracetamol

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 30 Des 2020 22:05 WIB
This will fix that toothache!
Foto: iStock
Jakarta -

Kebutuhan bahan baku untuk produk farmasi atau obat-obatan di Indonesia sebagian besar dipasok dari barang impor. Untuk mengurangi ketergantungan impor itu, PT Pertamina (Persero) melalui Subholding Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) dan PT Kimia Farma Tbk meneken kerja sama membangun pabrik obat paracetamol dari benzene.

Kerja sama itu tertuang dalam Pokok-pokok Perjanjian (Heads of Agreement/HoA) Pengembangan Proyek Produksi Paracetamol yang ditandatangani oleh Direktur Utama PT KPI Ignatius Tallulembang dan Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk Verdi Budidarmo. Paracetamol itu dibuat dari bahan baku benzene, yang merupakan turunan produk petrokimia. Adapun pabrik yang akan dibangun itu berkapasitas 3.800 ton per annum (TPA).

Wakil Menteri BUMN Pahala Nugraha Mansury yang turut menyaksikan penandatanganan kerja sama itu menyambut baik dan mengapresiasi langkah terobosan yang ditempuh Pertamina, melalui PT KPI dan PT Kimia Farma, yang berencana membangun pabrik farmasi paracetamol dengan kapasitas 3800 ton per annum (TPA) sebagai turunan produk petrokimia, yaitu benzene.

Upaya ini, menurut Pahala, merupakan salah salah satu terobosan di sektor kesehatan, yang sangat krusial dalam pemulihan ekonomi nasional dari dampak pandemi virus Corona (COVID-19).

"Hingga hari ini, kita ketahui bersama dan kita sama-sama belajar bahwa di tengah kondisi pandemi COVID-19 saat ini, kesehatan menjadi modal utama yang tidak terpisahkan dalam rangka memulihkan ekonomi nasional," kata Pahala.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati yang juga menyaksikan penandatanganan itu menjelaskan, kerja sama ini diawali dengan pengolahan benzene dan propylene yang berasal dari kilang Refinery Unit (RU) IV Cilacap untuk dapat dikembangkan dan diproduksi menjadi Para Amino Fenol (PAF) yang akan menjadi bahan baku farmasi, salah satunya paracetamol.

"Melalui HoA antara PT KPI dan PT Kimia Farma, kedua belah pihak akan melanjutkan kajian skema kerja sama bisnis, berdasarkan hasil dari Joint Study yang telah dilaksanakan sebelumnya. Kajian tersebut meliputi penyediaan bahan baku yaitu benzene, rencana off-take produk, skema transaksi, dan kajian komersial," jelas Nicke.

Sebagai informasi, pada 2019 lalu, angka permintaan (demand) industri farmasi nasional telah tumbuh hingga Rp 88,6 triliun. Namun, 95% dari kebutuhan BBO masih dipenuhi dari impor.

(hns/hns)