'PSBB Ketat' Bikin Harga Masker dan Hand Sanitizer Melejit Lagi?

Hendra Kusuma - detikFinance
Minggu, 10 Jan 2021 18:58 WIB
Deretan Masker Termahal
Ilustrasi Harga Masker(Mindra Purnomo/tim infografis detikcom)
Jakarta -

Pemberlakukan 'PSBB ketat' Jawa Bali atau pembatasan baru yang berlaku tanggal 11 sampai 25 Januari 2021 berpotensi menaikkan kembali harga masker dan hand sanitizer. Kenaikan harga kebutuhan di sektor kesehatan ini pernah terjadi pada pemberlakukan PSBB periode pertama di Maret 2020.

Peneliti dari CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan potensi kenaikan harga kebutuhan di sektor kesehatan ada. Namun, hal tersebut kemungkinan terjadinya sangat tipis.

"Sekarang supply untuk produk tersebut sudah mencukup bahkan kalau kita perhatikan beberapa merk kebutuhan sehari-hari yang tadinya tidak memproduksi masker dan hand sanitizer sekarang malah memproduksinya sehingga bisa dibeli dengan mudah oleh masyarakat," kata Yusuf saat dihubungi detikcom, Minggu (10/1/2021).

Dia menjelaskan, kenaikan harga beberapa kebutuhan sehari-hari pada 'PSBB ketat' periode pertama dikarenakan suplai barang atau produk tersebut masih sedikit. Di sisi lain, kata Yusuf terjadi panic buying dan penimbunan barang oleh oknum-oknum tertentu.

Sementara untuk harga pangan, Yusuf mengatakan masih terjaga selama tahun 2020.

"Dilihat dari angka inflasi yang relatif rendah, adapun kenaikan di akhir tahun kemarin lebih disebabkan pada faktor cuaca," katanya.

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Ninasapti Triaswati mengatakan penanganan pandemi COVID-19 menjadi salah satu kunci untuk mengatasi ketidakpastian dan potensi-potensi pelemahan ekonomi nasional. Seperti kenaikan harga dan pelemahan daya beli pada pemberlakukan 'PSBB ketat' Jawa Bali.

"Atasi masalah kesehatan untuk mengatasi COVID-19, termasuk penyediaan vaksin dan perluasan layanan kesehatan masyarakat," kata dia.

"Jika masalah kesehatan bisa diatasi, maka peningkatan sektor transportasi, pariwisata, restoran, perdagangan akan mendorong perekonomian khususnya UMKM," tambahnya.

(hek/dna)