RI Masih Kurang 3,62 Juta Ton Gula/Tahun, Solusinya?

Soraya Novika - detikFinance
Rabu, 13 Jan 2021 16:56 WIB
Gula menjadi salah satu bahan pangan pokok yang diimpor pemerintah. Impor itu dilakukan untuk menjaga pasokan harga dan pasokan menjelang Ramadhan 2020.
Foto: Pradita Utama: Gula impor
Jakarta -

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono mengungkapkan Indonesia masih defisit gula konsumsi maupun industri. Total defisitnya mencapai mencapai 3,62 juta ton/tahun

"Kita dari total kebutuhan konsumsi adalah 2,8 juta ton. Kalau kita hitung total kebutuhan gula nasional termasuk industri totalnya 5,8 juta ton sehingga defisitnya total dari industri itu impor sebanyak 3 juta ton, itu setiap tahun kita mengimpor dari luar karena kemampuan produksi kita baru sekitar 2,18 juta ton," papar Kasdi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta, Rabu (13/1/2021).

Oleh karena itu, untuk mengurangi ketergantungan terhadap gula impor, pihaknya telah menyiapkan beberapa strategi untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Strategi itu disebut swasembada gula.

"Kami membuat satu rencana yang sudah disampaikan dalam beberapa pertemuan sebelumnya untuk mengejar gula konsumsi kita ini di tahun 2020-2023 kita menargetkan (produksi) 676 ribu ton (gula)," ujarnya.

Strateginya itu terdiri dari 2 pendekatan, pertama rawat ratoon (pemeliharaan tanaman tebu keprasan secara intensif) dan bongkar ratoon (peremajaan tanaman/tanam ulang).

"Dari 200 ribu ton itu, 125 ribu ton-nya nanti kita formatkan ke dalam konteks rawat ratoon kemudian yang 75 ribu itu adalah bongkar ratoon sisanya untuk ekstensifikasi 50 ribu hektar itu adalah perluasan dan perluasan ini kita fokuskan perluasan plasma di masing-masing PG (pabrik gula) yang sudah ada saat ini, sehingga kita tidak menunggu PG baru yang lama untuk dibangun," paparnya.

Selain itu, pihaknya juga akan mengupayakan untuk mencari alternatif pengganti tebu sebagai bahan baku pembuat gula.

"Kalau kita terus berkutat pada berbasis tebu nampak kita akan kesulitan maka peluang lain untuk produksi gula dari selain tebu juga akan kita lakukan," katanya.

Beberapa alternatif pengganti tebu misalnya aren dan stevia.

"Seperti misalnya di lokasi seperti Banten, Jawa Barat punya potensi aren yang cukup, kemudian juga ada investor berkeinginan masuk berinvestasi di Indonesia untuk produksi gula dari Stevia," tutur Kasdi.

(hns/hns)