Jokowi Sentil soal Gula Impor, Kementan Cari Pengganti Tebu

Soraya Novika - detikFinance
Rabu, 13 Jan 2021 15:20 WIB
Gula menjadi salah satu bahan pangan pokok yang diimpor pemerintah. Impor itu dilakukan untuk menjaga pasokan harga dan pasokan menjelang Ramadhan 2020.
Foto: Pradita Utama: Gula impor
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyinggung banyaknya komoditas pangan yang masih impor hingga jutaan ton, salah satunya gula. Jokowi pun meminta para menteri terkait turun tangan menyelesaikan persoalan impor komoditas tersebut.

Merespons perintah Jokowi, Kementerian Pertanian (Kementan) segera bergerak. Menurut Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono, pihaknya kini telah menyiapkan beberapa solusi untuk mengatasi hal tersebut salah satunya mengganti tebu yang selama ini diandalkan sebagai bahan baku gula.

"Kalau kita terus berkutat pada berbasis tebu nampak kita akan kesulitan maka peluang lain untuk produksi gula dari selain tebu juga akan kita lakukan," ujar Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta, Rabu (13/1/2021).

Beberapa alternatif pengganti tebu misalnya aren dan stevia.

"Seperti misalnya di lokasi seperti Banten, Jawa Barat punya potensi aren yang cukup, kemudian juga ada investor berkeinginan masuk berinvestasi di Indonesia untuk produksi gula dari Stevia," terang Kasdi.

Selain mencari alternatif, Kementan juga tetap menggenjot produksi tebu yang masih dominan sebagai bahan baku gula. Strateginya yaitu melalui rawat ratoon (pemeliharaan tanaman tebu keprasan secara intensif) dan bongkar ratoon (peremajaan tanaman/tanam ulang).

"Dari 200 ribu ton itu, 125 ribu ton-nya nanti kita formatkan ke dalam konteks rawat ratoon kemudian yang 75 ribu itu adalah bongkar ratoon sisanya untuk ekstensifikasi 50 ribu hektar itu adalah perluasan dan perluasan ini kita fokuskan perluasan plasma di masing-masing PG (pabrik gula) yang sudah ada saat ini, sehingga kita tidak menunggu PG baru yang lama untuk dibangun," paparnya.

Melalui strategi ini diharapkan swasembada gula konsumsi bisa tercapai, dengan target produksi 676 ribu ton. Kasdi menambahkan, saat ini Indonesia masih defisit gula karena Kemampuan produksi dalam negeri masih belum mampu mencukupi total kebutuhan selama setahun.

"Kita dari total kebutuhan konsumsi adalah 2,8 juta ton, produksi kita rata-rata baru mencapai 2,18 juta ton, maka kita masih defisit 620 ribu ton. Kalau kita hitung total kebutuhan gula nasional termasuk industri totalnya 5,8 juta ton sehingga defisitnya total dari industri itu impor sebanyak 3 juta ton, itu setiap tahun kita mengimpor dari luar karena kemampuan produksi kita baru sekitar 2,18 juta ton," paparnya.

(hns/hns)