Bantah Ada Chip di Vaksin COVID-19, Kementerian BUMN: Hoaks!

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 19 Jan 2021 09:14 WIB
Vaccine and syringe injection It use for prevention, immunization and treatment from COVID-19
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/kiattisakch
Jakarta -

Pemerintah menepis rumor adanya chip di vaksin COVID-19. Pemerintah menegaskan jika itu adalah kabar bohong alias hoaks.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjelaskan yang ada adalah barcode di kemasan vaksin. Ia menjelaskan, vaksin diberi barcode agar terdata dan tidak dipalsukan.

"Pasti yang menyebarkan ini hoaks ya, memelintir lah informasi, yang dimaksud Pak Erick Thohir itu adalah bahwa yang namanya barcode itu, vaksin itu, itu terdata supaya jangan ada barcode yang palsu. Vaksin yang satu ini punyanya si A gitu, jadi ketahuan langsung dia datanya. Jadi semuanya ada barcode-nya, jadi vaksin yang ini dipakai untuk yang ini," kata Arya, Senin malam (18/1/2021).

Menurut Arya, langkah itu penting untuk mencegah pemalsuan. Apalagi, vaksinasi harus mencapai persentase tertentu untuk menciptakan kekebalan pada masyarakat Indonesia.

"Supaya jangan lagi nanti vaksin-vaksin palsu, kan sangat penting. Ini kan berbeda ya, kita tahu bahwa vaksin ini harus mencapai sekian persen, kalau nggak tercapai dan ada yang palsu kan bahaya nanti nggak terjadi herd immunity itu dan Coronanya ke mana-mana," paparnya.

Kembali, ia menegaskan tidak ada chip dalam vaksin tersebut. Sebab, vaksin ini berbentuk cairan.

"Jadi itu maksudnya bukan ada chip-nya, mana mungkin ada chip-nya di situ, itu kan cairan, gimana sih," sambungnya.

Menurutnya, rumor itu sengaja dibuat agar orang tidak mau divaksinasi. Dia bilang, itu adalah sesuatu yang berbahaya karena bisa mencelakakan orang lain.

"Jadi ini berbahaya, orang-orang yang menyebar hoaks adalah orang-orang yang memang ingin mencelakakan orang lain. Jadi berusaha menghambat vaksinasi dan itu membuat orang bisa mati terbunuh juga karena Corona. Jadi kita minta yang buat hoaks harus sadar dirilah, nggak ada agama yang akan membolehkan itu, menyebar-nyebarkan hoaks dan membuat orang bisa celaka," tegasnya.

(acd/ara)