Batal ke RI Februari Ini, Tesla Jadi Garap Baterai Mobil Listrik?

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 02 Feb 2021 19:45 WIB
CEO Tesla Elon Musk melanggar aturan lockdown dengan membuka kembali pabrik Tesla di Fremont, California, AS. Area parkir pabrik Tesla yang penuh dengan mobil baru.
Foto: AP Photo/Ben Margot
Jakarta -

Tesla, produsen mobil listrik asal Amerika Serikat (AS) berencana menjajaki investasi di Indonesia. Sebelumnya, tim Tesla akan datang ke Indonesia Februari ini, namun batal karena terkait pembatasan kunjungan orang asing untuk menekan penyebaran pandemi COVID-19.

Lalu bagaimana nasib rencana investasi Tesla di Indonesia? Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik membeberkan perkembangan rencana kerja sama dengan calon mitra atau investor untuk menggarap proyek baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Saat ini Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tergabung dengan tim tersebut sedang melakukan penjajakan dengan tujuh investor. Dari tujuh itu di antaranya ada perusahaan baterai asal China CATL, perusahaan asal Korea Selatan LG, dan perusahaan kendaraan listrik asal Amerika Serikat (AS) Tesla.

Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik, Agus Tjahajana mengatakan pihaknya masih mempelajari apa yang diinginkan pihak Tesla. Kemungkinan besar Tesla berminat untuk sistem penyimpanan energi (Energy Storage System/ESS).

"Dengan Tesla, kita juga sedang dalam tahap negosiasi. Tesla baru belakangan masuk (menyatakan minat). Kita lagi pelajari dia mau masuknya ke mana. Dari pembicaraan kemarin, mereka sepertinya mau masuk ke ESS," kata Agus Tjahajana dikutip dari CNBC Indonesia dalam webinar 'EV Battery: Masa Depan Ekonomi Indonesia', Selasa (02/02/2021).

Sementara dengan CATL dan LG, pihaknya juga masih bernegosiasi dengan kedua perusahaan tersebut. LG ingin memastikan bahwa bahan baku komponen baterai tersedia hingga puluhan tahun selama bisnis ini berjalan, sehingga menjamin keberlangsungan bisnis ini ke depannya.

"Syarat-syarat yang diminta LG antara lain mereka ingin bahan bakunya terjamin. Ini sesuatu yang wajar karena takutnya dalam 10 tahun, 20 tahun akan habis bahan bakunya. Makanya, dia mau bahan bakunya tersedia untuk menjamin kelangsungan bisnis. Mereka ingin minta kepastian ketersediaan bahan baku," jelas Agus.

KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA

(aid/hns)