Permintaan dari China-Bangladesh Seret, Ekspor Sawit 2020 Turun 9%

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 04 Feb 2021 16:35 WIB
Geliat industri sawit tak lepas dari kontroversi terkait isu lingkungan hingga isu kemanusiaan. Seperti apa kehidupan para buruh perkebunan sawit?
Foto: AP Photo/Binsar Bakkara
Jakarta -

Ekspor produk minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) Indonesia secara keseluruhan turun selama 2020. Hal itu tidak lain akibat dampak pandemi COVID-19 yang membuat banyak pembatasan di berbagai negara.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono mengatakan total ekspor kelapa sawit selama 2020 mencapai 34 juta ton atau turun 9% dibanding 2019 yang mencapai 37,39 juta ton.

"Ekspor secara keseluruhan 2020 turun 9% dibanding 2019. Ini sangat bisa dimaklumi karena pasar global mengalami pelemahan permintaan akibat hampir semua negara tujuan ekspor mengalami lockdown," kata Joko dalam konferensi pers virtual, Kamis (4/2/2021).

Penurunan terbesar terjadi ke China yakni sebesar 1,96 juta ton, ke Uni Eropa (UE) turun 712,7 ribu ton, ke Bangladesh turun 323,9 ribu ton, ke Timur Tengah turun 280,7 ribu ton, dan ke Afrika turun 249,2 ribu ton. Hanya ke Pakistan yang tumbuh 275,7 ribu ton dan ke India yang tumbuh 111,7 ribu ton.

"Yang (sawit) mengalami kenaikan atau positif tumbuh hanya India dan Pakistan. Semuanya minus, China cukup besar," ucapnya.

Meskipun terjadi penurunan volume ekspor, kata Joko, secara nilai ekspor 2020 lebih tinggi yakni mencapai US$ 22,97 miliar dibanding 2019 yang US$ 20,22 miliar. Neraca perdagangan bulanan Indonesia pada 2019 hampir selalu negatif dengan total defisit US$ 3,23 miliar, sedangkan pada 2020 selalu positif kecuali pada Januari dan April dengan total nilai US$ 21,72 miliar.

Selama 2020, neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar US$ 21,27, di mana ekspor produk kelapa sawit menyumbang sebesar US$ 22,97 miliar. Angka-angka itu dinilai menunjukkan bahwa kontribusi minyak sawit terhadap devisa negara sangat signifikan menjaga neraca perdagangan nasional tetap positif di masa pandemi.

"Walaupun surplus ini banyak yang mempertanyakan bagus atau tidak. Sebagian mengatakan ini tidak bagus karena bukan ekspornya naik, tapi impornya yang diturunkan secara paksa," ungkapnya.

Lanjut soal sawit di halaman berikutnya.

Lihat juga Video "Soal Banjir Kalsel, Denny Indrayana Keluhkan Tambang-Sawit ke Jokowi":

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2