Pemerintah: Kalau Tesla Cuma Mau Ambil Bahan Baku, Kita Tak Tertarik

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 05 Feb 2021 14:27 WIB
CEO Tesla Elon Musk melanggar aturan lockdown dengan membuka kembali pabrik Tesla di Fremont, California, AS. Area parkir pabrik Tesla yang penuh dengan mobil baru.
Foto: AP Photo/Ben Margot
Jakarta -

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto mengungkapkan bahwa rencananya pemerintah bakal bertemu Tesla pekan depan. Pertemuan itu digelar untuk menindaklanjuti proposal rencana investasi Tesla di tanah air yang baru dikirim ke meja Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan kemarin malam.

Namun, Septian enggan membocorkan isi dari proposal yang dikirim Tesla tadi termasuk rencana apa yang akan dilakukan produsen mobil listrik asal AS itu di Indonesia. Apakah sekadar mengambil bahan baku dari Indonesia atau serius mau membangun pabrik mobil listrik di sini. Namun, menurut Septian, bila Tesla hanya sekadar mengambil bahan baku saja, tentu pemerintah tak tertarik sama sekali dengan tawaran investasi tersebut.

"Yang jelas gini, kalau mereka hanya mengambil bahan bakunya kita tidak tertarik, jadi kira-kira mungkin itulah," ujar Septian dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (5/2/2021).

Selain Tesla, Indonesia juga sudah menjalin upaya kerja sama dengan beberapa perusahaan lain terkait pengembangan pabrik mobil listrik tersebut. Indonesia juga berniat membangun pabrik baterai lithium mobil listrik dengan LG Chem Ltd. asal Korea Selatan. Selain itu, Indonesia juga telah bersepakat dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) asal China. CATL pun telah menandatangani kerja sama dengan Inalum untuk pengembangan baterai lithium untuk mobil listrik.

Nah, menurut Septian dari ketiganya, proposal dari Tesla adalah yang paling menarik perhatian pemerintah. Sebab, Tesla memiliki teknologi yang terbaik di dunia.

"Poposal yang mereka berikan ini agak berbeda dengan apa yang diberikan oleh CATL dan juga LG Chemical. Kenapa? Karena menurut saya memang kalau saya lihat sepintas memang base technology yang akan mereka gunakan itu memang agak berbeda, jadi kenapa sebenarnya kalau dari kami sangat excited kerja sama dengan Tesla," ungkapnya.

"Kalau boleh dibilang Tesla ini untuk teknologi lithium baterai ya untuk mobil electric vehicle ini adalah salah satu yang terbaik lah di dunia. Jadi saya pikir kalau kita ada investasi dari CATL, dari LG, yang memang mereka adalah produsen lithium baterai dan teknologi juga sangat baik plua ditambah dengan Tesla, saya pikir nanti kita sebagai anak bangsa bisa banyak belajar nanti dari sini," tambahnya.

Septian menjelaskan tujuan pemerintah menjalin kerja sama dengan para produsen baterai lithium tadi adalah sekaligus untuk transfer teknologi.

"Salah satu hal yang kita minta dari mereka adalah ada transfer teknologi. Jadi ini adalah kesempatan yang baik di mana kita memiliki opportunity untuk bekerja sama dengan 3 perusahaan kelas dunia yang memiliki teknologi lithium baterai yang sangat advance gitu," katanya.

"Jadi mungkin nanti minggu depan kita akan diskusi langsung dengan mereka nanti akan melibatkan Antam, Inalum, juga terus kemudian ya nanti kita lihatlah dari sana seperti apa," sambungnya.

Hal lain yang kemungkinan akan dibahas dengan Tesla pekan depan adalah terkait rencana produksi sistem penyimpanan energi atau Energy Storage System(ESS) di Indonesia. Tesla kemungkinan akan berinvestasi di bidang produksi ESS tersebut.

ESS ini seperti 'power bank' dengan giga baterai skala besar yang bisa menyimpan tenaga listrik besar hingga puluhan bahkan ratusan mega watt untuk stabilisator atau untuk pengganti sebagai pembangkit peaker (penopang beban puncak).

"Satu lagi kerja sama di bidang ESS ya, Energy Storage System ya, jadi ESS ini sebenarnya mirip kayak baterai kayak power bank gitu, tapi ini powerbank nya ekstra besar, kapasitasnya bisa puluhan mega watt. Kalau powerbank kita kan paling 20.000 Watt, kalau ini bisa puluhan megawatt bahkan sampai 100 megawatt mereka bisa gitu," timpalnya.

Tesla tertarik mengembangkan ESS di Indonesia sebab sebagai negara kepulauan, Indonesia punya potensi yang sangat besar.

"Mereka sebenarnya dari sisi permintaan ya dari negara-negara lain itu sudah sangat tinggi jadi istilahnya mereka bilang memang supply nya dari sisi mereka pun dari ESS ini nggak banyak tapi mereka pengen kerja sama dengan Indonesia karena mereka melihat Indonesia yang negara kepulauan memiliki potensi banyak renewable energy ini mereka bisa mengkombinasikan teknologi ESS mereka ini untuk di Indonesia dan memberikan manfaat yang maksimal," katanya.

Simak juga video 'Langkah Jokowi Pepet Investasi ke Elon Musk':

[Gambas:Video 20detik]



(zlf/zlf)