DPR Minta Holding Farmasi Pastikan Pasokan Vaksin Tak Terganggu

ADVERTISEMENT

DPR Minta Holding Farmasi Pastikan Pasokan Vaksin Tak Terganggu

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 29 Mar 2021 19:15 WIB
Program vaksinasi nusantara disambut baik oleh berbagai perguruan tinggi, salah satunya Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung.
Foto: Siti Fatimah
Jakarta -

Rapat Komisi VI DPR dengan holding farmasi menghasilkan 10 kesimpulan. Kesimpulan rapat dibacakan Wakil Ketua Komisi VI Aria Bima, Senin (29/3/2021).

Kesimpulan pertama, Komisi VI menerima paparan penjalasan PT Bio Farma (Persero), PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk terkait kesiapan dan pelaksanaan serta realisasi penyediaan vaksin COVID-19.

Kedua, Komisi VI meminta Bio Farma, Kimia Farma dan Indofarma untuk berupaya maksimal dan meningkatkan produksi vaksin dalam rangka pemenuhan kebutuhan vaksinasi nasional sehingga proses vaksinasi dapat berjalan tepat waktu sesuai target yang ditetapkan pemerintah.

Ketiga, Komisi VI meminta Bio Farma, Kimia Farma dan Indofarma berkoordinasi kementerian/lembaga terkait untuk melaksanakan proses distribusi vaksin secara efektif, tepat waktu dan tepat sasaran terutama untuk masyarakat rentan yang menjadi prioritas penerima vaksin COVID-19 termasuk distribusi secara merata hingga ke daerah-daerah terluar, terpencil dan terdepan Indonesia.

Keempat, meminta Bio Farma, Kimia Farma dan Indofarma untuk memastikan proses penyimpanan dan pengiriman vaksin dilaksanakan sesuai standar yang telah ditetapkan dalam rangka mencegah kerusakan vaksin.

Kelima, Komisi VI meminta Bio Farma, Kimia Farma dan Indofarma untuk memastikan supply vaksin tidak terganggu oleh embargo yang terjadi di negara-negara penghasil vaksin.

Keenam, Komisi VI mempertegas kesimpulan rapat kerja dengan Menteri BUMN dan Bio Farma tanggal 20 Januari 2021 agar Bio Farma, Kimia Farma dan Indofarma berkontribusi secara aktif dalam proses pengadaan dan pendistribusian vaksin gotong royong yang dicanangkan pemerintah.

Ketujuh, Komisi VI mempertegas kesimpulan rapat kerja dengan Menteri BUMN dan Bio Farma pada 20 Januari 2021 agar Bio Farma mempercepat proses penelitian dan produksi vaksin Merah Putih sehingga dapat mendukung proses vaksinasi nasional.

Kedelapan, Komisi VI meminta Bio Farma, Kimia Farma dan Indofarma untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosialisasi vaksinasi COVID-19 di masyarakat dalam rangka meningkatkan kepercayaan dan keikutsertaan dala vaksinasi nasional.

Kesembilan, Komisi VI meminta Bio Farma, Kimia Farma dan Indofarma berkoordinasi dengan kementerian/lembaga terkait vaksin COVID-19 yang akan digunakan di Indonesia memenuhi kriteria safety, efikasi, quality dan prioritas halal.

Terakhir, Komisi VI meminta Bio Farma, Kimia Farma dan Indofarma untuk memberikan jawaban secara tertulis dalam waktu paling lama 10 hari kerja atas pertanyaan anggota Komisi VI.

Sementara itu Anggota Komisi VI DPR Marwan Jafar mengatakan di tengah kontraversi pengadaan, importasi, distribusi maupun upaya memproduksi vaksin sendiri di Indonesia, seharusnya hal itu menjadikan dan mampu memicu kalangan perusahaan BUMN farmasi buat memainkan peranan maupun kontribusi profesional yang lebih kreatif, cerdas, bermanfaat bagi mayoritas warga masyarakat serta bagi negara.

Ia juga menegaskan, justru komunitas BUMN farmasi harus melihat sisi lain yang positif di masa Pandemi ini atau saat inilah momentum mahal buat merumuskan ulang rencana bisnis lebih fokus, berani bersaing dengan perusahaan farmasi multinasional dan memperkuat SDM yang berkeahlian tinggi.

"Misalnya sebagai perbandingan, sekarang saja apakah BUMN sudah menang bersaing dengan sejumlah perusahaan farmasi swasta nasional di penelitian, laboratorium modern hingga produksi, pengolahan dan pemasaran produk herbal? Ambil contoh produksi minyak kayu putih (eucalyptus) yang sangat dibutuhkan masyarakat di masa Pandemi, pemimpin pasarnya tetap perusahaan farmasi swasta," ujarnya.

Menurut Marwan yang mantan Menteri Desa-PDTT, BUMN farmasi kita mesti mampu memanfaatkan momentum saat ini untuk lebih bekerja sama strategis dengan sejumlah stakeholder dunia farmasi. Mulai dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, Perdagangan, Kemristek-BPPT, sejumlah lembaga penelitian seperti Eijkman, hingga laboratorium farmasi sejumlah perguruan tinggi, rumah sakit, apotik dan sebagainya.

"Selain itu, di masa Pandemi sekarang, hemat saya komunitas BUMN farmasi bisa menjadi jembatan atau memberikan jalan tengah yg solutif, terkait ego keilmuan terkait potensi penemuan Vaksin Covid 19 khususnya di lingkungan perguruan tinggi. Ambil contoh, saya mendengar sempat ada persaingan dan ego tidak sehat antara UI dan Undip misalnya, khususnya yang pernah saling mengklaim tentang peluang menemukan vaksin termasuk tingkat kemanjurannya," tukasnya mengingatkan.

Marwan Jafar mengingatkan pula, sejauh ini muncul kesan di masyarakat, BUMN farmasi sekadar menjadi "tukang jahit" semisal terkait produk seperti Vaksin--dalam arti bahan baku atau bibit vaksin malahan dari negara luar dan bukan mencoba memaksimalkan bahan baku yg berasal dari dalam negeri--atau cenderung lebih suka mengimpor dalam bentuk produk akhir. Maksudnya, apa dan bagaimana solusi yang jitu dan strategis dalam konteks itu mesti ditemukan ran dibahas bersama.

Ia menginformasikan, awal bulan Maret ini pada sebuah pidato ilmiah guru besar farmasi di satu dies natalis perguruan tinggi swasta terkemuka menegaskan, sesungguhnya Indonesia berpotensi besar di pembuatan vaksin atau pencegahan virus dari bahan herbal jahe, madu dan jinten hitam. Cara pembuatan antara lain melalui tahapan nano farmasetik yang serius dan ketat.

"Pertanyaan kita apa saja peluang yang akan, sedang atau sudah dilakukan oleh kalangan BUMN farmasi kita terkait fakta ilmiah itu? Atau bagaimana sesungguhnya peluang, kekuatan, ancaman dan kelemahan kita terkait potensi domestik bahan herbal kita? Seberapa besar pula kemungkinan BUMN farmasi kita bekerjasama secara saling menguntungkan (win-win businesse) dengan beberapa perusahaan farmasi raksasa dunia, agar mau berinvestasi secara besar di Indonesia," tegas Marwan.

(acd/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT