Menkes Buka-bukaan Kehilangan 10 Juta Dosis Vaksin, DPR Bilang Begini

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 06 Apr 2021 20:15 WIB
charles honoris
Charles Honoris/Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Wakil Ketua Komisi IX DPR-RI, Charles Honoris menyebut transparansi dan keterbukaan informasi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin terkait terkendalanya pasokan vaksin COVID-19 ke Indonesia patut diapresiasi.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya Budi menyebut Indonesia kehilangan 10 juta dosis vaksin gratis dari WHO atau dari The Global Alliance for Vaccines and Immunisation (GAVI) oleh karena diembargo India.

"Dalam kondisi yang tidak bisa dihindari seperti ini, transparansi dan keterbukaan informasi oleh Menkes Budi Gunadi Sadikin terkait kendala vaksinasi patut diapresiasi," ujar Charles dalam keterangan resminya, Selasa (6/4/2021).

Charles menyebut kendala pasokan vaksin COVID-19 terjadi ke ratusan negara termasuk Indonesia. Oleh karenya, bila kemudian laju vaksinasi di dalam negeri tidak bisa seperti sebelumnya menjadi sesuatu yang tak terhindarkan (unavoidable).

Hal ini mengingat Indonesia selama ini mengandalkan suplai vaksin dari negara-negara produsen, sehingga sulit menghindari embargo akibat terjadinya gelombang ketiga (third wave) dari negara lain.

Justru dengan adanya informasi seperti ini, kata Charles, masyarakat harus semakin taat dan ketat dalam menerapkan protokol kesehatan. Terlebih di tempat-tempat dan fasilitas-fasilitas umum yang sudah, atau sedang direncanakan dibuka kembali, seperti bioskop, sekolah, dan sebagainya.

"Third wave yang sedang dialami negara-negara produsen vaksin sekarang ini bisa menjadi pelajaran penting buat kita agar selalu taat dan ketat dalam menerapkan protokol kesehatan. Bahwa gelombang baru penyebaran COVID-19 bahkan bisa terjadi di negara-negara penghasil vaksin dengan laju vaksinasi yang cepat sekalipun," imbuhnya.

Politikus PDIP ini mengatakan, proses vaksinasi COVID-19 di Indonesia yang sudah berjalan selama ini baru menjangkau kurang dari 5% dari total sasaran vaksinasi nasional sebanyak 181 juta orang.

"Perjalanan Indonesia menuju herd immunity (70% populasi) masih panjang, sehingga kita sebagai warga bangsa harus terus bekerja sama dan bergotong royong, agar kita bisa sama-sama selamat dalam perjalanan panjang ini," ujarnya.

(ara/ara)