Akhir Drama Kelangkaan Gula Rafinasi di Jatim

Hilda Meilisa Rinanda - detikFinance
Kamis, 29 Apr 2021 17:12 WIB
Dalam beberapa pekan terakhir, marak pemberitaan krisis gula rafinasi di Jatim. Hal ini diikuti desakan sejumlah pihak agar PT Kebun Tebu Mas (KTM) Lamongan diberikan izin impor raw sugar.
Foto: Istimewa/Humas Polda Jatim
Surabaya -

Sejumlah industri makanan dan minuman mengaku kesulitan memperoleh pasokan gula rafinasi hingga membuat sistem produksi terpaksa berhenti. Ketua Asosiasi Pesantren Entrepreneur Indonesia (APEI) Muhammad Zakki menuturkan pabrik gula rafinasi di Jatim diklaim tidak bisa memenuhi kebutuhan industri makanan minuman karena ketidaktersediaan bahan baku gula mentah, lantaran pabrik-pabrik gula di Jawa Timur tidak ada satu pun yang mendapatkan kuota impor gula.

Imbas kelangkaan tersebut, Industri makanan minuman di Jawa Timur sampai harus membeli gula rafinasi pada pabrik-pabrik gula rafinasi yang berlokasi di luar Jatim, seperti di Banten dan Lampung dengan biaya yang tinggi.

Dalam tudingannya, Zakki menyebut bahwa tersendatnya ketersediaan gula rafinasi di Jawa Timur merupakan buntut dari terbitnya Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 3 Tahun 2021 tentang Jaminan Ketersediaan Bahan Baku Industri Gula dalam rangka Pemenuhan Kebutuhan Gula Nasional.

"Kalau saya amati, peraturan ini dipaksakan. Karena ada klausul dalam pasal tersebut diberlakukan impor raw sugar untuk rafinasi sebelum tanggal 25 Mei 2010. Ini menurut saya pemaksaan, jadi tidak fair dan akan terjadi monopoli, oligopoli, keberpihakan, persaingan tidak sehat," kata Zakki dalam webinar Kebijakan Impor Gula dan Nasib Industri Makanan dan Minuman Jawa Timur, Rabu (7/4/2021) lalu.

Ramai-ramai Bantah Isu Kelangkaan Gula Rafinasi

Pernyataan itu langsung direspons pihak Kementerian Perindustrian. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Abdul Rochim mengatakan bahwa kebutuhan pasokan gula di Jawa Timur terpenuhi dengan baik dan tidak ada kelangkaan.

Direktur Jenderal Industri Agro Abdul Rochim mengatakan, keluhan kelangkaan gula rafinasi yang disuarakan APEI cukup aneh lantaran tak pernah ada keluhan resmi yang masuk ke Kementerian Perindustrian.

"Saya menjawab yang di Jawa Timur. kalau ada yang kurang juga nggak pernah disampaikan, nggak pernah laporkan ke kami. Hingga saat ini nggak pernah ada laporan. Kita cek ke Dirjen IKM juga mereka nggak dapat laporan ada yang kurang. Tahu-tahu ada yang teriak kekurangan," jelasnya.

Lebih lanjut Rochim menjelaskan, bahwa jika terjadi kekurangan dipastikan Gabungan Pengusaha makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) akan mengirimkan laporan ke pemerintah. Pengecekan juga dilakukan ke Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI). Industri gula rafinasi memastikan stok gula aman, tidak ada kekurangan, pengiriman sesuai schedule kontrak.

"Kalau memang kurang, sampaikan saja ke Kementerian Perindustrian. Bahkan kita akan fasilitasi untuk bertemu dengan produsen Gula Rafinasi yang ada," sambungnya.

Lalu bagaimana fakta di lapangan? Buka halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Gaduh Stok Gula Rafinasi Langka di Jawa Timur"
[Gambas:Video 20detik]

Tag Terpopuler