Garis Pantai RI Panjang Tapi Masih Impor Garam, Ini Biang Keroknya

Trio Hamdani - detikFinance
Minggu, 02 Mei 2021 19:00 WIB
Petani garam di Desa Bunder, Pademawu, Pamekasan, Jawa Timur.
Foto: ANTARA FOTO/SAIFUL BAHRI
Jakarta -

Bukan rahasia lagi jika Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki garis pantai yang sangat panjang. Selayaknya hal itu dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak lahan-lahan produksi garam. Tapi faktanya hingga kini Indonesia masih impor garam, khususnya untuk industri.

Mengutip data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang bersumber dari USGS Minerals Yearbook 2017, dilihat dari jumlah produksi garam maka Indonesia berada di urutan buncit, yaitu ke-33. Peringkat 1 adalah China, disusul Amerika Serikat (AS), dan India.

Direktur Industri Kimia Hulu Kemenperin Fridy Juwono pun membandingkan produktivitas lahan garam Indonesia dengan Australia yang dari segi produktivitas berada di peringkat 5. Produktivitas Indonesia hanya 1/3 dari Negeri Kanguru itu.

"Contohnya gini, jadi kalau kita bisa mengembangkan lahan di NTT kan minimal kalau lahannya bagus, minimal itu 100 ton per hektare. Di Australia karena dia luasannya di atas 1.000 hektare itu malah bisa 300 ton per hektare," katanya saat dihubungi detikcom, Minggu (2/5/2021).

Jadi, di sini pekerjaan rumahnya adalah memacu produktivitas lahan garam yang ada di Indonesia, salah satunya adalah NTT yang menjadi andalan.

Sejauh ini, pemerintah baru mengembangkan lahan di NTT sekitar 3 ribu hektare. Dengan produktivitas saat ini, yaitu 100 ton/hektare maka yang bisa diproduksi baru 300 ribu ton.

Seandainya produktivitasnya bisa dipacu seperti di Australia, yakni 300 ton/hektare maka lahan garam di NTT sendiri sudah bisa memproduksi 900 ribu ton atau digenjot sampai 1 juta ton.

Pemerintah juga berupaya memperluas lahan garam di NTT dari 3 ribu hektare menjadi 10 ribu hektare. NTB menurutnya juga bisa mendukung perluasan lahan garam. Dengan demikian maka kedua provinsi tersebut dapat menghasilkan 3 juta ton garam.

"Kalau 10 ribu hektare lahannya bisa sampai hasilnya 300 ton/hektare seperti di Australia (produksi garam nasional) bisa 3 juta ton," sebutnya.

Namun itu bukan satu-satunya PR. Tentu saja kualitas garam produksi dalam negeri harus ditingkatkan agar layak untuk industri.

"Garam lokal ini yang perlu terus ditingkatkan kualitasnya. Kita upaya-upaya sudah ada, misalnya PT Garam melakukan kerja sama dengan BPPT mengolah garam rakyat itu kualitasnya menjadi garam industri. Itu dari sisi pengolahan," sebutnya.

Diperlukan juga dukungan infrastruktur, mulai dari akses jalan hingga pelabuhan untuk mendukung proses pengiriman garam ke industri penggunaannya yang kebanyakan di Pulau Jawa. Infrastruktur yang memadai akan membuat harga garam lokal lebih kompetitif dibandingkan impor.

"Masalahnya kan bukan hanya lahan garamnya tapi nanti ketersediaan infrastrukturnya itu ya kan, supaya bisa kompetitif. Artinya jalan, pelabuhan, dermaga, sehingga garam dari sana dibawa ke Jawa yang banyak processing-nya garam dan juga pabrik ini ada di Jawa, ya bisa terpenuhi dengan harga yang kompetitif dibandingkan dengan harga dari luar," tambah Fridy.

Tonton juga Video: Mendag Jelaskan Urgensi Impor 3 Juta Ton Garam

[Gambas:Video 20detik]



(toy/dna)