RI Bangun Kapal Angkut Semen Sendiri Demi Pangkas Impor

Tim detikcom - detikFinance
Senin, 10 Mei 2021 12:54 WIB
PT Bukaka Teknik Utama Tbk mengekspor 33 unit garbarata ke Thailand. Garbarata yang akan dikirim ke Bandara Don Mueang tersebut mulai masuk kapal di Tanjung Priok.
Ilustrasi (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Galangan kapal nasional di Batam, Kepulauan Riau, PT Sumber Marine Shipyard, membangun dua unit kapal PB Cement Carrier berkapasitas 4.500 Dead Weight Tonnage pesanan perusahaan pelayaran nasional PT Andalas Bahtera Baruna.

Pembangunan kedua kapal ini menunjukkan kemampuan galangan kapal nasional dalam memenuhi kebutuhan kapal angkutan semen dalam negeri, khususnya dengan kapasitas dibawah 10.000 DWT sehingga mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Direktur PT Sumber Marine Shipyard Ronnie Kristanto menjelaskan perseroannya telah membangun dua unit kapal cement carrier yakni MV Iriana berkapasitas 9.500 DWT dan dengan teknologi Electric Propulsion pertama yang dibangun di Indonesia, serta MV Camilla berkapasitas 9.000 DWT. "Hari ini kami dipercaya kembali untuk melaksanakan pembangunan kapal angkut semen sebanyak dua unit sekaligus," ujarnya.

Kedua kapal yang saat ini dibangun adalah sister ship. Spesifikasi kapal adalah panjang 98 meter, lebar 18,20 M dan draf 4,80 M. Kapal didesign dengan mengandalkan sumber daya manusia Indonesia dan dengan mempertimbangkan secara detail rencana dan kebutuhan operasi nantinya sesuai dengan regulasi internasional dan Pemerintah.

Kedua kapal tersebut diestimasi akan dibangun selama 12 bulan hingga 15 bulan dengan menggunakan kandungan lokal sebesar-besarnya serta dibangun oleh 100 persen sumber daya manusia Indonesia. "Seyogyanya, kapal dengan tipe dan ukuran tertentu ini, dapat diprioritaskan pengadaannya melalui pembangunan kapal baru pada galangan dalam negeri dan membatasi impor," ujar Ronnie.

Pembangunan kedua kapal tersebut ditandai dengan pelaksanaan keel laying di galangan yang berlokasi di Batam, Senin (10/5). Keel laying dihadiri Direktur Perkapalan dan Kepalautan Ditjen Perhubungan Laut Capt. Hermanta beserta Senior Manager PT Andalas Bahtera Baruna Capt. Adrie S. Supit.

Dalam sambutannya Capt. Hermanta menjelaskan Kementerian Perhubungan terus mendorong terciptanya kolaborasi yang baik antara perusahaan pelayaran nasional dan perusahaan galangan dalam rangka memperbesar kegiatan pembangunan kapal baru di dalam negeri.

"Sebab, dengan cara kolaborasi seperti ini, sektor maritime Indonesia dapat lebih cepat berkembang bahkan dapat mendukung terwujudnya Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia sebagaimana impian Bapak Presiden Joko Widodo dan kita masyarakat Indonesia," katanya.

Capt. Hermanta menambahkan hingga saat ini, Indonesia masih memerlukan pasokan kapal dengan berbagai tipe dan ukuran, baik dalam rangka ekspansi maupun peremajaan. "Apalagi, sebagian kapal berbendera Merah Putih sudah waktunya untuk diremajakan sehingga kebutuhan akan kapal selalu meningkat dimana hal ini dapat dipenuhi dari dalam negeri," ujarnya.

Dia menjelaskan ditengah suasana pandemi COVID-19, pembangunan kapal angkut semen ini, memiliki makna yang sangat berarti bagi Indonesia. Proyek ini akan menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit tentunya dimana saudara-saudara kita saat ini banyak yang membutuhkannya.

"Kami patut berbangga dan memberikan apresiasi karena pembangunan kapal ini akan menggunakan kandungan lokal yang sebesar-besarnya sehingga industri penunjangnya seperti pelat, kabel, lampu dan sebagainya, akan ikut menerima dampak positifnya," ujarnya.

(dna/dna)