Sudah Tahu Porang Belum? Peluang Ekspornya Bikin Ngiler

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 19 Mei 2021 14:40 WIB
Amorphophallus paeoniifolius or elephant foot yam of Southeast Asia
Foto: iStock
Jakarta -

Porang, tanaman sejenis umbi-umbian yang kini tengah ngetren di tingkat global. Tanaman ini menjadi bahan baku berbagai produk makanan, kosmetik dan produk kimia. Untungnya Indonesia punya banyak tanaman yang jadi harta karun baru tersebut.

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Abdul Rochim mengatakan, porang merupakan komoditas ekspor yang saat ini sangat potensial untuk dikembangkan. Tanaman porang relatif mudah untuk ditanam di semua jenis tanah di iklim tropis dan tidak mudah terkena penyakit serta tidak rentan cuaca ekstrem.

"Umbi porang memiliki nilai ekonomis tinggi dan berfungsi sebagai bahan baku berbagai macam industri," ucapnya dalam Webinar Halal Bihalal Kopitu, Rabu (19/5/2021).

Dalam industri makanan olahan porang dan ekstrak glukomanannya digunakan dalam berbagai produk makanan yang lagi ngetren. Seperti mie shirataki, beras konnyaku, pasta porang dan pengental.

Lalu di industri kosmetik, porang digunakan dalam pembuatan pembersih wajah, masker wajah dan bahan pengisi dan pengikat tablet. Olahan porang juga dapat digunakan dalam industri kimia untuk bahan pelapis atau coating, perekat dan pembuatan kertas.

Menariknya lagi, porang Indonesia kata Abdul tidak mengandung senyawa trimetilamin, sehingga tepung porang yang dihasilkan tidak berbau amis. Hal inilah yang membuat porang Indonesia diminati oleh pasar luar negeri.

"Permintaan Global terhadap produk turunan umbi porang sangat tinggi dengan pertumbuhan ekspor tahun 2020 mencapai sebesar 23,35%. Adapun 3 besar negara tujuan ekspor kurang yaitu RRT, Thailand dan Malaysia," terangnya.

Kehadiran porang ini jika dikembangkan secara maksimal bisa memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi. Sebab jika dilihat kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDB nasional yang mencapai 17,91%. Angka itu lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2020 yang tercatat sebesar 17,86%.

"Bila kita lihat secara year on year industri pengolahan nonmigas memang masih menunjukkan angka kontraksi yaitu minus 0,71% tapi bila kita lihat angkat kontraksi tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi yang minus 0,74%," tambah Abdul.

Jika dilihat lebih dalam, sektor industri makanan dan minuman yang merupakan salah satu pengguna bahan baku porang, merupakan kontributor penting dalam perekonomian Indonesia. Pada triwulan I-2021 industri ini memberikan kontribusi 6,8% dari total PDB nasional.

"Bahkan di tengah tekanan berat akibat pandemi, saat ini sektor industri makanan dan minuman masih mampu positif sebesar 2,45% pada Kuartal 1 tahun 2021. Industri kecil dan menengah, IKM pangan yang kini tercatat mencapai 1,86 juta unit usaha atau 43,41% dari total unit usaha IKM tentu telah memberikan sumbangsih dalam kemajuan industri pangan nasional dan memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia," tutupnya.

(das/dna)

Tag Terpopuler