Industri Petrokimia RI Tetap Kinclong di Tengah Pandemi

- detikFinance
Kamis, 27 Mei 2021 12:18 WIB
Ilustrasi Kilang Pertamina
Jakarta -

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kinerja industri petrokimia yang merupakan salah satu sektor prioritas yang tetap tumbuh positif di tengah pandemi COVID-19. Menurut Kemenperin, kinerja industri petrokimia tetap tumbuh positif dengan utilisasi 95 persen karena termasuk industri yang mampu menyubstitusi produk impor.

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mencatat, sebanyak 55 persen bahan baku produk petrokimia masih impor. Menurut Inaplast dampak pandemi terhadap industri petrokimia, hanya terjadi pada tiga bulan pertama, setelah itu industri mampu recovery.

Kinerja positif tersebut juga ditunjukan oleh perusahaan petrokimia milik negara, PT Tuban Petrochemical Industries (TubanPetro) dan anak usaha. Berbagai rencana pengembangan bisnis TubanPetro Group, tetap berjalan on the track.

Bahkan, pandemi menjadi ''berkah'' bagi anak usaha TubanPetro, yakni PT Polytama Propindo dan PT Petro Oxo Nusantara yang mampu meningkatkan penjualan hingga periode 31 Maret 2021. Polytama Propindo berhasil meraih penjualan sebesar USD87,07 juta atau naik dari USD53,23 juta di periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan Petro Oxo Nusantara meraih penjualan sebesar USD40,58 juta atau naik dari USD30,83 juta di periode yang sama tahun sebelumnya.

Presiden Direktur PT Polytama Propindo Didik Susilo menyampaikan, kinerja positif yang diraih Polytama diperoleh seiring naiknya permintaan produk polypropylene yang banyak digunakan untuk bahan dasar alat kesehatan seperti alat pelindung diri (APD), dan masker, disamping masih belum lancarnya supply chain dari polypropylene impor.

Produksi Polytama pada tahun 2020 mencapai 233.971 MT, meningkat 3,95% dibandingkan tahun 2019 yaitu sebesar 225.089 MT. Pencapaian ini disebabkan naiknya permintaan, disamping peningkatan kapasitas terpasang menjadi 300.000 MT/tahun. Peningkatan kapasitas tersebut seiring dengan selesainya proyek peningkatan kapasitas di area polimerisasi (bulk) dan penambahan extruder serta seluruh fasilitas pendukung yang diselesaikan di akhir 2019.

''Polytama dapat melalui masa pandemi 2020 dengan membukukan laba komprehensif sebesar USD 15,2 juta dan EBITDA sebesar USD 20,85 juta, lebih besar dari RKAP 2020 masing-masing sebesar USD 2,9 juta dan USD 17,9 juta,'' ujar Didik, dalam Siaran Pers.

Dalam memenuhi permintaan pasar dan kebutuhan konsumen, Polytama secara konsisten melakukan inovasi dalam proses produksi dan pengembangan produk. Inovasi yang dilakukan pada tahun 2020 adalah mengganti sebagian bahan bakar boiler dari industrial diesel oil menjadi gas alam yang akan menghemat biaya produksi.

Anak usaha TubanPetro yang lain, yaitu Petro Oxo Nusantara (PON), juga mampu mempertahankan kinerja seiring dengan permintaan produk 2-EH, khususnya mulai semester kedua 2020 karena kenaikan permintaan produk-produk kesehatan untuk APD, terutama sarung tangan. Pembalikan tren harga (rebound) baru terjadi mulai November 2020 dengan delta P jauh diatas normal.

Presiden Direktur PON Jaya Martapa menyampaikan, bahwa kapasitas produksi 150.000 MT untuk Ethyl Hexanol dan Isobutanol menjadikan PON sebagai produsen terbesar di Indonesia, dengan penjualan 80% ekspor. PON juga berencana diversifikasi produk dengan menggantikan produk Iso-Butyl Alcohol (IBA) menjadi Neo Pentyl Glycol (NPG) telah dimulai oleh PON dengan menyelesaikan Pra Feasibility Study di akhir 2020.

Direktur Utama PT Tuban Petrochemical Industries (TubanPetro) Sukriyanto menambahkan, agar kinerja semakin baik di masa depan, TubanPetro dengan didukung PT Kilang Pertamina International dan PT Pertamina Persero, telah mendorong anak-anak usahanya untuk menyusun dan mengeksekusi beberapa rencana pengembangan, antara lain proyek revamping di PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) guna meningkatkan kapasitas produksi TPPI saat ini. Pengembangan Pabrik Olefin TPPI juga terus berjalan.

Untuk Proyek Pembangunan Pabrik Polypropylene II (Balongan), PT Polytama Propindo (Polytama) telah menyusun pra Feasibility Study maupun penyiapan strategi eksekusinya. Untuk proyek pembangunan pabrik Neopentyl Glycol (NPG), PT Petro Oxo Nusantara (PON) telah menyusun pra Feasibility Study maupun penyiapan pendanaannya.

(dna/dna)