Jajal KREUZ, Airlangga: Bukan Bahasa Jerman, tapi Sunda

Wisma Putra - detikFinance
Jumat, 04 Jun 2021 20:15 WIB
Menko Airlangga Hartarto jajal KREUZ, Brompton made in Bandung
Foto: Wisma Putra/detikcom: Menko Airlangga jajal KREUZ, 'Brompton' made in Bandung
Bandung -

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menjajal sepeda Kreasi Urang Sunda (KREUZ) buatan Bandung. Pantauan detikFinance, Jumat (4/6/2021) sore, usai melihat showroom sekaligus bengkel sepeda KREUZ, Airlangga dan istri, diikuti Menteri Perindustrian Agus Gumiwang dan kader Partai Golkar gowes sejauh 100 meter di sekitar bengkel sepeda KREUZ.

Airlangga menaiki sepeda KREUZ berwarna kuning, atau khas warna Partai Golkar. Di batang sepeda itu, terdapat tulisanAirlangga Hartarto. Airlangga mengatakan, lebih enak menaiki sepeda KREUZ dibandingkan produk sejenis. Apalagi, sepeda KREUZ buatan Indonesia.

"Kompetitif dengan produk sejenis, tetapi kalau dinaikkin enak dan digenjot ringan," kata Airlangga saat disinggung apakah enak menaiki KREUZ.

Airlangga mengungkapkan, kedatangan dirinya ke bengkel Sepeda KREUZ ini karena ingin melihat langsung sepeda yang sekilas mirip Brompton ini.

"Ini kualitas bagus dan industri rumahan yang sudah memenuhi SNI. Ini memproduksi sekitar 150 unit per bulan dengan harga Rp 15 juta - Rp 25 juta, ini sepeda kelas premium bersaing dengan produksi luar negeri," ungkapnya.

"Dengan ada produksi di dalam negeri, kita lebih mendorong merk Kreasi Urang Sunda, namanya KREUZ, ini bukan Bahasa Jerman tapi Bahasa Sunda," tambahnya.

Berjalan hampir dua tahun, dari yang sebelumnya hanya bisa memproduksi 15 unit, saat ini KREUZ sudah mempekerjakan 5 industri penunjang.

"Ada vendor 5, ini didorong pemerintah. Apalagi sejak pandemi COVID-19 penjualan meningkat, sejak 2019 bikin prototipe nya 1, 2020 jual 15 sepeda, sekarang bisa 150 per bulan," tuturnya.

Airlangga menyebut, jika kita ingin sepeda ini harus pesan dulu selama enam pekan, bahkan lebih. Selain itu Airlangga menegaskan pemerintah mendorong SNI-nya karena ini komponen hampir 70 persen dalam negeri.

"Sekarang orang pesan satu setengah bulan, ini luar biasa, kita apresiasi Pak Yudi (owner). Ini produk anak bangsa, harus didorong oleh pemerintah, karena kompetitif dengan produk sejenis," pungkasnya.

(wip/hns)