Garmen Branded Kena Bea Masuk Dinilai Salah Sasaran

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 11 Jun 2021 18:15 WIB
diskon guess
Foto: Rahmi Anjani/Wolipop
Jakarta -

Pemerintah diminta tepat sasaran terkait rencana penerapan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) atau safeguard garmen impor. Pasalnya, jika itu diterapkan pada garmen impor bermerek akan memberikan dampak besar.

Ketua Umum Asosiasi Peritel Merek Global Indonesia (Apregindo) Handaka Santosa menjelaskan, rencana tersebut ditujukan untuk melindungi UMKM dalam negeri. Menurutnya, seharusnya tidak diterapkan pada garmen bermerek impor karena bukan pesaing UMKM.

Dia mengatakan, jika diterapkan pada garmen bermerek akan berdampak pada kenaikan harga dan penjualan turun. Mal-mal pun bisa sepi karena orang enggan berbelanja. Padahal, ada penerimaan negara dari penjualan garmen bermerek tersebut.

"Saya bayangin, pertama dikenakan safeguard atau BMTP, kemduian barang ini makin mahal kemudian penjualan turun, kemudian disetop nggak impor, kemudian mal-mal itu pada kosong gimana. Padahal mal itu kalau kita nyewa, Anda tahu kan bayar PPN per m2, PPN itu ke pemerintah 10%," ujarnya kepada detikcom, Jumat (11/6/2021).

Selain PPN, ada juga penerimaan negara yang berasal dari PPh Final, pajak dari karyawan, hingga pajak perusahaan.

"Kedua selain bayar PPN kita harus motong PPh Final 10% juga. Jadi kalau kita nyewa ruang 1.000 m2 buat buka merek A, itu rental yang kita bayar per bulan 1.000 m2 itu 10% bayar PPN ke pemerintah, 10% kita harus motong dari developer dari mal kita yang peritel bayar ke pemerintah. Bayangin pemerintah udah dapat 20%. Belum nanti PPh 21 karyawan, belum lagi perusahannya ada PPh badan," paparnya.

Kembali, jika itu diterapkan akan memberikan efek domino. Menurutnya, orang bisa enggan pergi ke mal untuk belanja. Kemudian toko-toko di mal bisa tutup.

"Kemudian kedua efek domino, orang ninggalin mal, tokonya ditutup. Kaya sekarang Anda lihat Giordano, ada di Plaza Senayan, Plaza Indonesia, Senayan City itu kan mendatangkan income semua untuk pemerintah. Kalau kemudian harga naik, penjualan kecil mungkin dia tutup dua, tinggal satu aja dipertahankan di Plaza Indonesia. Senayan City sama Plaza Senayan tutup," ujarnya.

(acd/dna)