Makin Nyata! Pabrik Baterai Mobil Listrik RI Dibangun Bulan Depan

Aulia - detikFinance
Minggu, 20 Jun 2021 10:41 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Pabrik baterai mobil listrik milik PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Konsorsium LG asal Korea mulai dibangun pada Juli 2021.

"LG ini sudah mulai groundbreaking bulan Juli, paling lambat Agustus awal kita sudah kita bangun, ini bukan cerita dongeng, ini sudah kita lakukan," ungkap Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dalam Rakornas dengan HIPMI secara virtual, Sabtu (19/6/2021).

Pabrik produksi baterai listrik yang disebut-sebut akan menjadi yang pertama di Asia dan bahkan di dunia memiliki nilai investasi mencapai US$ 9,8 miliar (sekitar Rp142 triliun). Bahlil menyebut investasi ini menjadi yang pertama dan terbesar pasca reformasi.

"Kita sudah membangun kerja sama dengan LG sebesar US$ 9,8 miliar atau Rp 142 triliun. Ini investasi terbesar pasca reformasi baru kali ini," katanya.

Optimis jadi yang terbesar di dunia, karena Bahlil mengungkap bahan-bahan untuk pembuatan baterai mobil listrik 50% berada di Indonesia, terutama nikel. Dia tegaskan pemerintah telah melarang ekspor Nikel agar Indonesia bisa menjadi menjadi produsen baterai terbesar di dunia.

"Kenapa Indonesia melarang ekspor nikel? agar Indonesia menjadi produsen terbesar untuk baterai dunia. Jadi kita tidak boleh hanya menjadi ekspor-ekpor bahan baku terus," tegasnya.

"50% komponen dari baterai mobil listrik adalah baterai, dan bahan bakunya paling besar itu adalah nikel dan nikel 25% total cadangan dunia itu ada di Indonesia, lalu ada mangan ini paling banyak di Sulawesi Tenggara, lalu Kobalt yang merupakan produk turunan dari nikel. Hanya Litium kita impor dari Australia," tambahnya.

Bahlil berharap pengusaha tambang nikel yang sudah berizin khususnya di daerah ikut andil dalam proyek besar tersebut.

"Harapannya, teman-teman yang sudah mempunyai Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel di daerah bisa berkolaborasi dengan investor-investor yang masuk di indonesia maupun pengusaha dalam negeri," terangnya.

Sistem kolaborasi antar pengusaha itu telah tertuang dalam UU Cipta Kerja. Bahlil menyebutkan dalam UU itu dijelaskan setiap investasi yang masuk ke Indonesia wajib melibatkan pengusaha daerah.

"Investasi yang masuk wajib bergandengan dengan pengusaha daerah kalau nggak bisa bagaimana caranya biar bisa dengan cara kita, nggak boleh pengusaha daerah hanya jadi penonton, pengusaha daerah harus ikut, dan harus ikut mengambil bagian," tandanya.

Pabrik baterai mobil listrik PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Konsorsium LG berada di di Kota Deltamas, Karawang, Jawa Barat. Pembangunan tahap pertama direncanakan memiliki kapasitas produksi baterai mencapai 10 gigawatt hour (GWh), yang nantinya akan dipakai untuk kendaraan listrik dari Hyundai.

(zlf/zlf)