Mendag: Ekonomi Digital Tumbuh Rp 4.531 Triliun di 2030

Siti Fatimah - detikFinance
Rabu, 07 Jul 2021 18:45 WIB
Dubes RI untuk Amerika Serikat, Muhammad Lutfi
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memproyeksikan pertumbuhan ekonomi digital pada 2030 akan berkembang delapan kali lipat dibanding 2020. Pertumbuhan tersebut diiringi dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang akan terkerek naik 10 tahun ke depan.

Dia mengatakan, PDB saat ini besarannya sekitar Rp15 ribu triliun, kemudian pada 9-10 tahun ke depan PDB akan tumbuh satu setengah kali lipat menjadi Rp 24 ribu triliun.

"Pada saat yang bersamaan ekonomi digital kita atau perdagangan e-commerce kita akan tumbuh dari Rp 632 triliun pada tahun 2020, akan naik 8 kali lipat menjadi Rp 4.531 triliun. Jadi ini pertumbuhan yang sangat luar biasa," kata Lutfi dalam Mid Year Economic, Rabu (7/7/2021).

Tak hanya itu, dengan proyeksi tersebut, Lutfi mengatakan, ekonomi digital RI akan menjadi yang terbesar se-Asia Tenggara. Menurutnya, ekonomi digital akan 6 kali lebih besar dari Malaysia, 5 kali lebih besar dari Filipina, 6 kali lebih besar dari Singapura dan untuk Vietnam 4 kali lebih besar.

Secara rinci, pertumbuhan ekonomi digital dibagi dalam beberapa sektor. Sektor perdagangan digital atau e-commerce menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi digital.

Pihaknya mencatat, nilai e-commerce pada 2030 menyentu Rp1.908 triliun dan 54% diantaranya masih dikuasai oleh lokal.

"Di mana pesertanya atau pelaku pemegang keputusan akhir masih orang Indonesia meskipun investornya bisa dari mancanegara. Ini yang terbesar Tokopedia, Blibli dan lain-lain," ujarnya.

Kemudian untuk online travel meski tengah dalam situasi pandemi namun pertumbuhannya sangat kencang. "Jadi kalau Rp 100 triliun pada tahun 2019 itu naik lebih dari tiga setengah kali lipat menjadi Rp 575 tiliun," imbuhnya.

Sementara itu, untuk ekonomi digital dari sektor online media mengalami peningkatan 11 kali ketika pandemi COVID-19. Namun dari sisi digital advertising, kata Lutfi, sebagian besar pergi ke platform asing.

"Untuk media online ini kita mengeluarkan biaya yang luar biasa tetapi yang main di dalam yang sebenarnya kepemilikannya adalah asing," paparnya.

Meski begitu, pihaknya menilai isu ekonomi digital akan menjadi tren topik pembicaraan utama di tengah perdagangan Internasional baik itu antar negara maupun di forum multilateral.

(dna/dna)