Eropa Setop Produksi Mobil Bahan Bakar Fosil di 2035, Gantinya Apa?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 09 Agu 2021 10:04 WIB
FILE- In this Tuesday, Feb. 25, 2020 file photo, workers complete an electric car ID.3 body at the assembly line during a press tour at the plant of the German manufacturer Volkswagen AG (VW) in Zwickau, Germany. The coronavirus has cancelled business plans all over the world but Europes push into electric cars isnt one of them. Sales of battery-powered and hybrid cars have held up despite a deeply painful recession, mainly thanks to the action of governments. (AP Photo/Jens Meyer, file)
Ilustrasi/Foto: AP/Jens Meyer
Jakarta -

Uni Eropa akan segera mengakhiri produksi dan penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel pada tahun 2035. Rencana ini merupakan salah satu upaya dalam mengurangi emisi gas karbon yang dikeluarkan oleh kendaraan berbahan bakar bensin maupun diesel.

Komisi Eropa (badan eksekutif Uni Eropa) mengatakan bahwa mereka telah meminta kepada seluruh perusahaan yang bergerak di industri otomotif untuk memangkas emisi rata-rata mobil baru mereka sebesar 55% pada tahun 2030. Target baru Euro untuk 2030 merupakan lompatan yang signifikan dari target UE sebelumnya di 2018 di mana mereka telah mengurangi emisi dari mobil produksi baru sebesar 37,5%.

Setelahnya, pada tahun 2035, setiap perusahaan otomotif di Eropa diminta untuk hanya memproduksi mobil/kendaraan yang tidak mengeluarkan emisi gas sama sekali. Dengan kata lain, pada 2035, Uni Eropa hanya akan memproduksi mobil listrik.

"Ekonomi bahan bakar fosil telah mencapai batasnya. Kami ingin meninggalkan generasi berikutnya sebuah planet yang sehat serta pekerjaan yang baik dan pertumbuhan yang tidak merusak alam kita," kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dalam sebuah pernyataan, dikutip dari CNN, Senin (9/8/2021).

Untuk memfasilitasi peralihan penggunaan kendaraan berbahan bakar bensin menjadi mobil listrik, Komisi Eropa mengatakan bahwa mereka akan meminta 27 negara anggota UE untuk memperluas kapasitas pengisian daya kendaraan. Ke depannya, titik pengisian daya kendaraan listrik ini akan dipasang setiap 60 kilometer (37,3 mil) di jalan raya utama, dan tarif pajak minimum untuk bahan bakar bensin dan solar akan dinaikkan.

"Ini adalah titik balik bagi industri otomotif dan kabar baik bagi pengemudi," kata William Todts, direktur eksekutif grup lobi Transport & Environment.

"Aturan baru UE akan mendemokratisasi mobil listrik dan memberikan dorongan besar untuk pengisian daya," tambahnya

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan otomotif dinilai cukup kooperatif terkait rencana Uni Eropa untuk menghentikan produksi dan penjualan mobil berbahan bakar bensin dan diesel. Seperti contoh perusahaan otomotif Volkswagen, yang juga pemilik merek Audi dan Porsche, mengatakan bahwa mereka ingin kendaraan listrik menyumbang 50% dari penjualannya pada tahun 2030.

Selain itu, ada juga perusahaan otomotif asal AS, Ford, telah mengumumkan rencana mereka untuk hanya menjual kendaraan listrik di Eropa pada 2030. Sedangkan untuk perusahaan otomotif lainnya seperti Renault, Volvo, BMW dan Mercedes-Benz telah menguraikan program mereka masing-masing untuk meningkatkan produksi mobil yang lebih bersih.

(ara/ara)