Industri Pupuk Aman-aman Saja Dihantam Pandemi, Kok Bisa?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 27 Agu 2021 09:19 WIB
Musim tanam pertama 2021 dimulai Maret-April 2021. Ketersediaan pupuk untuk petani pun terus dipantau. Salah satunya di gudang Pupuk Kaltim di Tabanan, Bali.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Kegiatan bisnis industri pupuk tetap berjalan lancar di tengah pandemi COVID-19. Meski banyak bisnis yang babak belur akibat virus tersebut.

Hal itu sebagaimana terjadi pada PT Pupuk Kaltim, anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero). Di tengah pandemi, kegiatan produksi dan distribusi tetap berjalan lancar guna memenuhi kebutuhan para petani.

Direktur Keuangan dan Umum Pupuk Kaltim Qomaruzzaman mengatakan, pada dasarnya setiap orang butuh makan. Dia bilang, untuk memenuhi kebutuhan pangan itu, pupuk diperlukan untuk meningkatkan produktivitas petani.

Dengan demikian, kebutuhan pupuk tetap terus ada meskipun ada pandemi.

"Jadi kalau secara bisnis, bisnis lain-lain memang kemungkinan menurun ya, tapi bisnis di bidang pangan, alhamdulillah yang namanya pangan, semua orang butuh makan. Sehingga dari sisi produksi, dari sisi operasional itu sepertinya tidak gangguan. Alhamdullilah semuanya berjalan lancar karena dari sisi kebutuhan para petani tetap berjalan normal, kan petani tetap aja nanam, panen dan seterusnya," terangnya dalam wawancara khusus detikcom seperti ditulis Jumat (27/8/2021).

Distribusi juga tidak mengalami kendala meski banyak pembatasan selama pandemi. Distribusi tetap berjalan lancar karena pupuk merupakan bidang bisnis khusus.

"Kita dengan jalur distribusi yang ada, kita jalankan dengan baik sehingga kebutuhan petani bisa kita penuhi dengan baik juga. Jadi secara umum dalam situasi pandemi seperti ini khususnya bidang industri pangan sepertinya tetap bisa berjalan dengan normal," katanya.

Pihaknya pun memastikan dapat memenuhi kebutuhan pupuk di wilayah distribusi. Apalagi, wilayah distribusi Pupuk Kaltim mengalami perubahan di awal tahun ini, di mana saat ini Pupuk Kaltim fokus di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan seluruh Sulawesi.

"Jadi saya sampaikan bahwa realisasi produksi sampai 31 Juli kemarin total sudah mencapai 1,7 juta ton untuk amoniak, untuk ureanya 2 juta ton, dan NPK-nya sudah tercapai 124 ribu ton," katanya.

"Jadi kira-kira dari jumlah produksi itu kita distribusikan ke daerah, jadi kita perlu mengamankan jumlah stok yang ada di daerah dan mendistribusikan kepada para petani. Tanggung jawab kita harus menyediakan stok minimum untuk kebutuhan 2 minggu, namun kita sediakan lebih dari cukup, itu kira-kira kondisinya," tambahnya.

(acd/zlf)