Catatan Luhut di Balik Sukses RI Ekspor Jarum Suntik ke Ukrania

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 27 Agu 2021 11:51 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Produk alat suntik sekali pakai alias auto disable syringe (ADS) untuk vaksinasi COVID-19 buatan dalam negeri berhasil diekspor ke luar negeri. Ekspor alat suntik ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan UNICEF (United Nations Children's Emergency Fund), dan permintaan pasar di Ukraina.

Kemarin, kiriman pertama kontainer alat suntik ini dilakukan di Cikarang, Jawa Barat. Totalnya, akan ada 1,2 miliar alat suntik yang akan diekspor.

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yang hadir dalam pengiriman pertama alat suntik ke Ukraina mengatakan ekspor yang dilakukan PT Oneject Indonesia ini adalah langkah yang sangat baik di tengah upaya peningkatan penggunaan produksi dalam negeri serta mendorong ekspor produk jadi.

"From local to global. Ini adalah mimpi pemerintah, program pemerintah sebanyak mungkin yang bisa kita bikin dalam negeri," ujar Luhut dalam keterangannya, Jumat (27/8/2021).

Tapi, masih ada catatan yang diberikan Luhut untuk produk alat suntik yang diekspor ini, hal itu adalah peningkatan kandungan komponen dalam negerinya. Meski alat ini sudah diekspor, namun beberapa kompenen masih didapatkan dengan melakukan impor.

Komponen yang dimaksudkan Luhut adalah jarum suntik pada alat suntik yang diekspor ini bahan bakunya masih didapatkan dari luar negeri. Padahal, menurut Luhut sudah ada pabrik stainless steel dalam negeri di Morowali.

"Tapi ini jarumnya masih kita impor. Padahal kita ini punya pabrik stainless steel terbagus di Morowali, saya akan ngomong dengan Morowali agar bahan bakunya bisa dikasih ke Oneject," tutur Luhut.

Luhut menekankan apabila jarum suntik yang dia maksud bisa dipenuhi dengan produk stainless steel dari pabrik di Morowali maka kandungan komponen dalam negeri pada alat suntik pabrikan Oneject akan meningkat. Peningkatannya bisa mencapai 80%.

"Penguatan penggunaan produk dalam negeri penting untuk dilakukan dan harus didukung oleh semua pihak guna meningkatkan kesempatan kerja di sektor ini dan mampu menghemat devisa," tegas Luhut.

Dia menambahkan, dengan stainless steel hasil olahan pabrik di Morowali, menurutnya Oneject juga bisa memperbanyak produksi alat suntiknya. Saat ini baru 1,2 miliar, dengan stainless steel dari Morowali bisa saja naik 5 miliar.

"Sedangkan kebutuhan dunia totalnya ini mencapai 12 miliar jarum suntik," kata Luhut.

(hal/eds)