3 Fakta Terkini Vaksin Merah Putih Garapan Biotis-Unair

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 16 Sep 2021 07:00 WIB
Jakarta -

Indonesia saat ini sedang mengembangkan Vaksin Merah Putih. Ada enam institusi yang mengembangkan vaksin COVID-19 buatan dalam negeri itu, salah satunya Biotis Pharmaceuticals Indonesia-Universitas Airlangga (Unair). Bagaimana perkembangannya?

1. Siap Disuntikkan Juli 2022

Vaksin Merah Putih produksi Biotis-Unair ditargetkan paling lambat Juli 2022 sudah bisa disuntikkan ke masyarakat. Vaksin yang diproduksi adalah whole genome inactivated COVID-19 vaccine

"Kami berharap paling lambat bulan Juli vaksin kami sudah bisa dipakai masyarakat Indonesia," kata Direktur Utama PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia, FX Sudirman dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (15/9/2021).

Pihaknya turut mendapatkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, yakni RSUD Dr Soetomo Surabaya, BRIN tentunya terutama di fase nonklinik atau preklinik, kemudian Kementerian Kesehatan dalam hal ini Balitbangkes dalam uji klinis, serta BPOM dari sisi pengawasan dan pembimbingan.

"Hanya satu tujuannya adalah bagaimana kami bisa melakukan produksi massal Vaksin Merah Putih untuk memenuhi kebutuhan vaksin COVID-19 bagi masyarakat Indonesia mulai tahun depan," papar Sudirman.

2. Harganya Kurang dari US$ 5

Vaksin Merah Putih tersebut rencananya akan dijual di bawah US$ 5 dolar. Dia meyakini dengan harga tersebut akan semakin banyak masyarakat yang bisa mendapatkan vaksinasi yang ditanggung oleh pemerintah, tentunya dengan anggaran yang lebih sedikit dibandingkan belanja vaksin tahun ini. Pemerintah sendiri menganggarkan Rp 54,46 triliun untuk belanja vaksin tahun ini.

"Mudah-mudahan kami bisa melakukan atau mengembangkan vaksin/memproduksi vaksin dengan harga yang affordables (terjangkau) ya, mudah-mudahan kurang dari US$ 5 dolar," jelasnya.

3. Terkendala Bahan Baku

Sudirman membeberkan penyebab produksi Vaksin Merah Putih lebih lama dibandingkan vaksin COVID-19 yang diproduksi di negara lain. Penyebabnya adalah bahan baku yang mayoritas masih impor.

"Mengenai resiliensi dari logistik dan supply chain. Nah ini memang buat negara kita ini merupakan kelemahan yang cukup besar karena hampir semua bahan baku pembuatan vaksin itu kita harus impor," jelasnya.

Untuk seed (bibit) vaksin atau isolat vaksin untuk produk Vaksin Merah Putih memang berasal dari Indonesia, namun reagen dan medianya, serta peralatannya sebagian besar impor dari luar negeri.

"Oleh karena itu kenapa industri farmasi global bisa cepat menyediakan vaksin karena mereka bisa secure logistik dan supply chain yang terkait dengan kebutuhan-kebutuhan untuk membuat vaksin," tambahnya.

(toy/fdl)