Aplikator Belanja Online Diingatkan Tetap Waspada Penjual Obat Abal-abal

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 15 Sep 2021 18:44 WIB
Istilah Belanja Online
Foto: Belanja Online (Denny Pratama/detikcom)
Jakarta -

Anggota Komisi VI DPR Mufti Anam mendesak perusahaan-perusahaan e-commerce untuk menertibkan para penjual berbagai produk palsu, termasuk masker, obat, dan vitamin.

Mufti mengatakan, di masa pandemi memang banyak yang mencoba mengambil keuntungan dengan mengorbankan konsumen. Salah satunya melalui penjualan produk abal-abal.

"Jadi memang pandemi ini kan meningkatkan penjualan produk-produk tertentu, misalnya masker dan vitamin. Dulu awal-awal kan masker. Tapi beberapa waktu ini vitamin dan obat. Pertama, harganya mahal, di luar harga pasar. Kedua, apesnya, ketika barang datang, ada sebagian abal-abal," ujar Mufti di sela-sela rapat bersama CEO Tokopedia, Shopee, Bukalapak, dan Gojek, Rabu (15/9/2021).

Mufti meminta marketplace menerapkan sejumlah mekanisme untuk memproteksi konsumen dari aksi penipuan semacam itu. Mufti mengusulkan sejumlah mekanisme. Pertama, filter berdasarkan harga.

"Misal ada orang jual masker atau vitamin di luar harga pasar, ya langsung diblok saja akunnya, biar orang tidak semena-mena. Jadi perlu ada semacam patroli harga di luar kewajaran, terutama untuk obat, vitamin, dan barang terkait kesehatan di masa pandemi ini," ujarnya.

"Kalau produk lain seperti fashion silakan akrobat harga, tapi begitu soal obat, vitamin, alat kesehatan, langsung blok ketika harga di luar kewajaran. Memang ini tidak ada regulasi soal harga, tapi harus ada etika bisnis di masa pandemi ini," tegas politisi PDI Perjuangan itu.

Mekanisme kedua, Mufti menambahkan, penanganan produk palsu harus sampai pada penegak hukum. "Ini ya memang banyak, ada produk palsu diterima, kemudian penjual diblok, tapi tidak semua masuk ke ranah hukum. Padahal itu penting agar yang lain juga tidak berani jual abal-abal," terangnya.

"Kalau sekarang kan, ada yang ditutup, tapi selalu muncul penjual abal-abal baru. Ditutup satu, muncul dua, dan seterusnya," ujarnya.

Mufti menambahkan, di luar persoalan produk dijual dengan harga di luar kewajaran dan sebagian palsu, e-commerce yang ada telah ikut mendorong ekonomi nasional. Nilai transaksi belanja online tahun lalu sebesar Rp266 triliun.

"Tentu platform marketplace punya kontribusi signifikan dalam mendorong ekonomi Indonesia. Ke depan akan semakin bagus jika mengutamakan produk lokal, itu sangat bermanfaat untuk pemulihan ekonomi," pungkasnya.

(dna/dna)