Kisah Jatuhnya Takhta RI: Penguasa Gula yang Kini Tinggal Kenangan

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 20 Sep 2021 19:30 WIB
ilustrasi gula
Ilustrasi/Foto: thinkstock

Berikut catatan detikcom, mengutip buku Depresi 1930-an dan Dampaknya Terhadap Hindia Belanda karya Soegijanto Padmo dari situs Jurnal Universitas Gadjah Mada. Imbas Depresi Hebat pada Tanah Air terutama di sektor perdagangan.

Indonesia yang berperan sebagai negara pengekspor komoditas primer terutama dari pertanian harus menghadapi penurunan harga yang tajam, namun juga harus tetap membayar komoditas impor dengan harga tetap.

Di Indonesia, pemerintah Belanda tetap memerintahkan agar produksi pertanian dan perkebunan ditingkatkan. Alhasil, volume ekspor pertanian melonjak di tahun 1930 jika dibandingkan tahun 1928, meski nilainya merosot tajam.

Selain Indonesia, penurunan tajam harga komoditas juga terasa ke Australia dan Hindia Barat yang juga merupakan penghasil barang primer. Seiring dengan harga komoditas yang merosot, penanaman modal atau investasi juga terhenti karena para investor memilih wait and see.

Pada tahun 1931, sistem moneter internasional yang mengatur setiap langkah pemulihan dunia usaha dan perdagangan internasional jatuh. Akibatnya, upaya berbagai negara untuk menurunkan tarif ekspor dan impor gagal ketika Amerika Serikat (AS) menolak untuk berpartisipasi.

Dampak kongkrit Depresi Hebat di Jawa dan Hindia Belanda bisa ditarik pada empat kesimpulan antara lain hancurnya harga dan permintaan komoditas internasional, masalah pengusaha tanaman khususnya karet dan gula, krisis keuangan yang disebabkan oleh berkurangnya penerimaan dan belanja pemerintah, dan terakhir dampak sosial ekonomi yakni lenyapnya kesempatan kerja, pendapatan, dan daya beli masyarakat di seluruh pelosok Tanah Air.

Penurunan kesempatan kerja di Indonesia terasa di semua sektor formal, terutama di industri perkebunan dan kegiatan perdagangan di kota pada umumnya. Lebih dari 300.000 lapangan pekerjaan di perkebunan musnah. Upah pekerja juga turun hingga 50%. Pendapatan penduduk pribumi di Jawa menurun menjadi kurang dari separuh.