Kenapa Pabrik Rokok Masih Cuan Segede 'Gaban' Meski Cukai Naik?

ADVERTISEMENT

Kenapa Pabrik Rokok Masih Cuan Segede 'Gaban' Meski Cukai Naik?

Tim detikcom - detikFinance
Minggu, 26 Sep 2021 16:54 WIB
Pemerintah akan menaikkan cukai rokok 23% dan harga jual eceran (HJE) 35% mulai tahun depan.
Foto: Rifkianto Nugroho

Emiten pertama adalah PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM). Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (26/9/2021), WIIM membukukan kinerja positif sepanjang 2020 di mana laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meroket 531,57% dari Rp 27,27 miliar pada 2019 menjadi Rp 172,24 miliar pada 2020.

Kinerja positif itu berlanjut hingga semester I-2021 di mana laba bersih Wismilak mencapai Rp 63,10 miliar atau naik sekitar 44,4% dibandingkan laba bersih tahun berjalan pada semester I-2020 yang sebesar Rp 43,7 miliar.

Sepanjang enam bulan pertama di 2021, penjualan sebesar Rp 1,18 triliun atau naik sekitar 42% dibandingkan pada paruh pertama 2020 sebesar Rp 829,26 miliar. Raihan itu paling banyak berasal dari penjualan domestik yang secara umum mencatatkan kenaikan.

Rinciannya, paling besar berasal dari sigaret kretek mesin (SKM) sebesar Rp 846,94 miliar atau naik 59,6% yoy, sigaret kretek tangan (SKT) naik 4,6% yoy sebesar Rp 217,43 miliar, namun cerutu turun 16,85% menjadi Rp 607,61 juta di semester I-2021.

Pun, pabrik yang mengalami penurunan, nilai laba pabrik-pabrik rokok ini masih bisa dikatakan besar hingga menyentuh angka triliunan rupiah.

Emiten rokok lainnya seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM), misalnya, masih membukukan laba bersih sepanjang 2020, meskipun turun. Laba bersih ambles 29,71% menjadi Rp 7,65 triliun pada 2020, dari tahun sebelumnya sebesar Rp 10,88 triliun.

Begitu juga untuk kinerja semester I-2021, laba bersih Gudang Garam masih terkoreksi 39,53% atau Rp 2,31 triliun dari Rp 3,82 triliun pada semester I-2020. Meskipun laba bersih merosot, pendapatan perusahaan naik.

Pendapatan Gudang Garam pada 2020 naik sebesar 3,58% dari Rp 110,52 triliun pada 2019, menjadi Rp 114,48 triliun. Pada semester I-2021 juga naik 12,92% yoy menjadi Rp 60,58 triliun dari Rp 53,65 triliun pada semester I-2020.

PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) juga mencatat penurunan laba bersih sebesar 15,29% di sepanjang semester I-2021 menjadi senilai Rp 4,13 triliun, dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,88 triliun.

Bahkan penurunan laba itu terjadi ketika pendapatan perusahaan tumbuh 6,47% yoy menjadi Rp 47,62 triliun, bertambah dari posisi akhir Juni 2020 yang sebesar Rp 44,73 triliun.

Meski begitu, ada emiten rokok yang mengalami kerugian yakni PT Bentoel International Investama Tbk (RMBA), yang mencatatkan rugi bersih Rp 2,67 triliun pada 2020. Pada tahun sebelumnya, emiten rokok milik British American Tabacco itu mencatatkan laba bersih Rp 50,6 miliar.


(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT