Cukai Bikin Buruh Rokok Tertekan? Eh Pabriknya Masih Cuan Segede 'Gaban'

Tim detikcom - detikFinance
Minggu, 26 Sep 2021 15:15 WIB
Pedagang asongan dan perwakilan petani menolak perayaan hari tanpa
tembakau yang jatuh hari ini. Menurut mereka, kampanye anti tanpa
tembakau berniat memberangus budaya merokok kretek yang telah
membudaya beratus-ratus tahun. Rp 70 triliun cukai rokok mampu
menjamin kesehatan para perokok, bila pajaknya dikelola dengan benar.file/detikcom.
Foto: Adi Saputra
Jakarta -

Kebijakan terkait cukai rokok sering mengundang protes dari kalangan industri, baik dari sisi korporasi, maupun para buruh dan pekerja yang menggantungkah hidupnya dari industri ini. Kenaikan tarif cukai rokok seringkali dikhawatirkan akan menggerus penjualan dan jumlah konsumen rokok.

Maklum saja, akibat kenaikan cukai rokok pada 2020 sebesar 23% dan 2021 naik 12,5%, harga rokok di pasaran langsung terkerek. Para pekerja dan buruh pun khawatir kenaikan harga rokok imbas kenaikan cukai rokok itu akan mempengaruhi penjualan rokok yang pada akhirnya bisa mengancam masa depan pekerjaan mereka.

Namun keresahan para pekerja dan buruh rokok tampaknya tak begitu kentara bila melihat kinerja industri rokok secara keseluruhan.

Penelusuran detikcom menemukan, pabrik-pabrik rokok besar yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mencatat laba, bahkan ada yang labanya naik meski tarif cukai rokok naik dan industri dihantam pandemi.

Pun, pabrik yang mengalami penurunan , nilai laba pabrik-pabrik rokok ini masih bisa dikatakan besar hingga menyentuh angka triliunan rupiah.

Contohnya saja PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM). Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (26/9/2021), WIIM membukukan kinerja positif sepanjang 2020 di mana laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meroket 531,57% dari Rp 27,27 miliar pada 2019 menjadi Rp 172,24 miliar pada 2020.

Kinerja positif itu berlanjut hingga semester I-2021 di mana laba bersih Wismilak mencapai Rp 63,10 miliar atau naik sekitar 44,4% dibandingkan laba bersih tahun berjalan pada semester I-2020 yang sebesar Rp 43,7 miliar.

Sepanjang enam bulan pertama di 2021, penjualan sebesar Rp 1,18 triliun atau naik sekitar 42% dibandingkan pada paruh pertama 2020 sebesar Rp 829,26 miliar. Raihan itu paling banyak berasal dari penjualan domestik yang secara umum mencatatkan kenaikan.

Rinciannya, paling besar berasal dari sigaret kretek mesin (SKM) sebesar Rp 846,94 miliar atau naik 59,6% yoy, sigaret kretek tangan (SKT) naik 4,6% yoy sebesar Rp 217,43 miliar, namun cerutu turun 16,85% menjadi Rp 607,61 juta di semester I-2021.

Emiten rokok lainnya seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM) juga masih mencatatkan laba bersih sepanjang 2020, meskipun turun. Laba bersih ambles 29,71% menjadi Rp 7,65 triliun pada 2020, dari tahun sebelumnya sebesar Rp 10,88 triliun.

Begitu juga untuk kinerja semester I-2021, laba bersih Gudang Garam masih terkoreksi 39,53% atau Rp 2,31 triliun dari Rp 3,82 triliun pada semester I-2020. Meskipun laba bersih merosot, pendapatan perusahaan naik.

Pendapatan Gudang Garam pada 2020 naik sebesar 3,58% dari Rp 110,52 triliun pada 2019, menjadi Rp 114,48 triliun. Pada semester I-2021 juga naik 12,92% yoy menjadi Rp 60,58 triliun dari Rp 53,65 triliun pada semester I-2020.

PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) juga masih mencatat perolehan laba sepanjang semester I-2021 meski mengalami penurunan sebesar 15,29% menjadi senilai Rp 4,13 triliun, dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,88 triliun.

Jumlah konsumen rokoknya juga terbilang naik tercermin dari pendapatan perusahaan yang tumbuh 6,47% yoy menjadi Rp 47,62 triliun, bertambah dari posisi akhir Juni 2020 yang sebesar Rp 44,73 triliun.

Meski begitu, ada emiten rokok yang mengalami kerugian yakni PT Bentoel International Investama Tbk (RMBA), yang mencatatkan rugi bersih Rp 2,67 triliun pada 2020. Pada tahun sebelumnya, emiten rokok milik British American Tabacco itu mencatatkan laba bersih Rp 50,6 miliar.

(dna/dna)