Airlangga Ungkap Ada Bahaya di Balik Meroketnya Harga Batubara

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 07 Okt 2021 18:05 WIB
Sejumlah pekerja melakukan bongkar muat batu bara menggunakan alat berat di pelabuhan krakatau bandar samudera, Cigading, Cilegon (8/3/2013). Direktur Jendral Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi Sumber Daya Manusia (ESDM), Thamrin Shite mengatakan untuk mengendalikan produksi batu bara, pemerintah menetapkan kuota produksi secara nasional. File/detikFoto.
Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta -

Indonesia mungkin tengah diuntungkan dengan tren kenaikan harga batu bara. Bahkan pada Selasa (5/10) kemarin harga batu bara sempat naik 12,45% ke level US$ 280 per ton.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, tren kenaikan harga batu bara bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun ada hal yang harus diwaspadai di balik berkah tersebut.

"Diperkirakan ekonomi akan tumbuh positif ditambah lagi kita punya super cycle dari komoditas, termasuk batu bara. Sekarang justru yang menjadi tantangan bagaimana batubara di dalam negeri," ucapnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (7/10/2021).

Airlangga khawatir kenaikan harga batu bara akan menjadi boomerang bagi industri dalam negeri. Pada industri yang membutuhkan batu bara tentu akan terbebani dengan kenaikan harga tersebut.

"Agar industri tetap kompetitif karena kalau terlalu tinggi juga industri dalam negeri kesulitan untuk memperoleh energi karena terlalu mahal. Nah ini kita harus mendorong keseimbangan antar sektor," tambahnya.

Meski begitu Airlangga melihat ada indikasi ekonomi RI terus meningkat. Selain dari harga komoditas juga tercermin dalam beberapa aspek kegiatan ekonomi yang mulai pulih.

"Indikasi ekonomi meningkat kan PMI sudah 52,2%, Kemudian juga kita lihat kredit dari pada konsumen, berarti juga penerimaan itu juga sudah meningkat. Kemudian kita lihat mobilitas meningkat, jumlah visitor ke mall itu juga sudah meningkat," terangnya.

(das/dna)