Giliran Jerman Mau Bikin Pabrik Bahan Baku Baterai Mobil Listrik di RI

Trio Hamdani - detikFinance
Minggu, 10 Okt 2021 10:15 WIB
Baterai mobil listrik buatan Dasep Ahmadi
Foto: Jhoni Hutapea
Jakarta -

Hubungan perdagangan antara Republik Indonesia dan negara-negara kawasan Eropa Timur terus mengalami perkembangan signifikan. Berbagai penandatanganan kerja sama maupun upaya menemukan pasar baru terus dijalin untuk meningkatkan nilai perdagangan antara Indonesia dan negara-negara Eropa Timur, terlebih khusus BulgariaSusul China, Jerman Bangun Pabrik Bahan Baku Baterai Mobil Listrik di RI

Perusahaan dan produsen kimia terbesar di dunia asal Jerman, BASF bakal membangun pabrik bahan baku baterai mobil listrik di Indonesia. Itu dikatakan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dari hasil pertemuan langsung dengan BASF

Pertemuan tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti minat investasi BASF di bidang industri smelter/pemurnian hidrometalurgi nikel dan kobalt yang menghasilkan produk bahan baku baterai kendaraan listrik.

"Kami akan dukung penuh rencana investasi BASF ini. Terkait perizinan dan insentif investasi, kami yang akan urus. Kita akan kawal terus sampai beres," kata Bahlil melalui keterangan tertulis dikutip detikcom, Minggu (10/10/2021).

Dijelaskannya, BASF rencananya bekerja sama dengan Eramet, perusahaan pertambangan asal Perancis. Keduanya akan melakukan kerja sama investasi kompleks pengolahan nikel-kobalt untuk keperluan pengembangan kendaraan listrik. Proyek tersebut mencakup pembangunan pabrik High-Pressure Acid Leaching (HPAL) dan Base Metal Refinery (BMR).

Pabrik HPAL akan dibangun di Halmahera Tengah, Maluku Utara dengan kapasitas produksi sekitar 42.000 metrik ton nikel/tahun dan sekitar 5.000 metrik ton kobalt/tahun.

Lanjut membaca ke halaman berikutnya



Simak Video "Kepala BKPM Bicara Perpres Investasi Miras-Lampiran yang Dicabut Jokowi"
[Gambas:Video 20detik]