Kendaraan Bensin Berhenti Dijual di 2040, Bukan Dilarang Lho Ya...

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 18 Okt 2021 21:00 WIB
Pekerja melakukan proses pembuatan mesin mobil di Pabrik Toyota Motor Manufacturing Indonesia Karawang, Jawa Barat, Senin (7/3/2016). Dengan diresmikannya engine plant ketiga ini, TMMIN memiliki total jumlah 5 pabrik di Indonesia, baik untuk produksi mesin dan perakitan kendaraan. Engine plant ketiga ini akan menjadi basis produksi mesin untuk lokal dan juga diekspor ke lima negara. Total investasi di engine plant ketiga ini menghabiskan Rp 2,3 triliun.Rencananya akan menjadi basis produksi mesin kode NR khususnya tipe R-NR. Mesin tipe R-NR ini adalah mesin bensin yang bisa menggunakan bahan bakar ethanol.
Foto: Agung Phambydhy
Jakarta -

Pemerintah menyusun langkah mencapai target nol emisi karbon atau net zero emission (NZE) 2060. Salah satu caranya adalah menyetop penjualan motor dan mobil berbahan bakar bensin.

Penghentian penjualan kendaraan dengan berbahan bakar bensin ini akan dimulai pada tahun 2040. Tahapannya, motor bensin tidak boleh dijual pada 2040 dan mobil bensin di 2050.

Perlu digarisbawahi, yang dilarang di sini adalah penjualannya, bukan berarti penggunaan mobil dan motor berbahan bakar bensin bakal dilarang.

"Di tahun 2040, bauran EBT sudah mencapai 71%, tidak ada penjualan motor konvensional. Bauran EBT diharapkan sudah mencapai 87% di 2050 dibarengi dengan tidak melakukan penjualan mobil konvensional," katanya dalam keterangan pers, Kamis (14/10/2021).

Upaya untuk mencapai nol emisi karbon telah dilakukan sejak tahun ini. Upaya yang dilakukan mulai dari peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), pengurangan energi fosil, penggunaan kendaraan listrik di sektor transportasi, peningkatan pemanfaatan listrik pada rumah tangga dan industri, dan pemanfaatan Carbon Capture and Storage (CCS).

Nah salah satu upayanya adalah penggunaan kendaraan listrik di sektor transportasi, untuk hal yang satu ini pemerintah punya target khusus di tahun 2030. Di tahun tersebut sudah ada penggunaan mobil listrik sebanyak 2 jutaan unit, dan motor hingga 13 jutaan unit.

Kalangan industri otomotif pun merespons rencana ini. Menurut Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) Yohannes Nangoi berdasarkan informasi yang didapatkan dari Kementerian Perindustrian, rencana penghentian penjualan kendaraan bensin ini akan dilakukan dengan cara mengganti bahan bakar menjadi ramah lingkungan.

Salah satunya, menurut Yohanes adalah dengan menggunakan bahan bakar biofuel. Bahan bakar yang satu ini disebutnya berasal dari kelapa sawit, pemerintah pun sudah mencanangkan program biofuel ini.

"Setahu saya, setelah saya berbicara dengan Kementerian Perindustrian kita harus menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan," kata Yohannes kepada detikcom, Kamis (14/10/2021).

Yohannes juga mengatakan rencana ini tidak akan melarang pengoperasian mobil, bahkan mobil yang sekarang ber-BBM pun cuma perlu diganti bahan bakarnya saja.

"Pemerintah tengah mencanangkan G100 kan. Berarti mobilnya boleh dong. Contohnya di Brasil, bensinnya diganti etanol bahan baku tebu, itu kan energi baru terbarukan (EBT)," papar Yohannes.

"Jadi nanti kita lihat saja, tetapi bukan mobilnya diberhentikan bukan begitu kira-kira," tambahnya.

Tonton juga Video: PNS Bakal 'Dipaksa' Pakai Mobil dan Motor Listrik, Ini Target Pemerintah

[Gambas:Video 20detik]




(dna/dna)