Dilema Pengendalian Rokok di RI: Antara Kesehatan dan Ekonomi

Tim detikcom - detikFinance
Kamis, 04 Nov 2021 13:06 WIB
Anak dan rokok
Foto: iStock
Jakarta -

Upaya pemerintah dalam menekan prevalensi perokok di Indonesia perlu mempertimbangkan beragam aspek termasuk, sosial, kultural atau budaya, dan ekonomi.

Ketua Yayasan Manusia Welas Asih Semesta (Mawas) Kurniawan Saefullah menyebutkan, pengentasan prevalensi merokok memerlukan identifikasi mendasar terkait penyebab meningkatnya konsumsi merokok di Indonesia.

"Dalam hal ini, kita perlu melihat apakah penyebabnya faktor sosial atau kultural. Keduanya saling berkaitan sekalipun juga perlu dibedakan," ujarnya seperti dikutip, Sabtu (30/10/2021).

Kurniawan menjelaskan fenomena sosial yang berkaitan dengan fenomena lain menjadi salah satu pemicu konsumsi rokok di Indonesia. Untuk menekan prevalensi merokok di Indonesia, maka diperlukan identifikasi keterkaitan antara kedua fenomena tersebut.

"Saat merokok dilakukan karena didorong faktor stres, maka selama penyebab stres tidak diselesaikan, kebiasaan tersebut tidak akan tersolusikan," tuturnya memberikan contoh.

Hal yang sama juga perlu dilakukan terhadap aspek kultural. Berdasarkan sejumlah riset, aspek kultural turut menjadi pendorong konsumsi rokok di Indonesia. Contohnya adalah riset yang dilakukan Nawi Ng, L. Weinehall, dan A. Ohman yang berjudul "If I don't smoke, I'm not a real man' - Indonesian teenage boys' views about smoking" yang dipublikasikan pada 2007 silam.

Oleh karena itu, menurut Kurniawan, pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait lainnya perlu melakukan pendekatan kultural.

"Jika merokok disebabkan karena faktor kultural mengenai imaji bahwa yang merokok itu terkait dengan pandangan maskulinitas, maka perlu ada upaya besar untuk mengubah pandangan maskulinitas yang dikaitkan dengan merokok dan seterusnya," paparnya.

Bersambung ke halaman selanjutnya.