ADVERTISEMENT

Waduh! Krisis Chip Diprediksi Sampai 2023, Harga HP Tambah Naik?

Siti Fatimah - detikFinance
Senin, 15 Nov 2021 08:11 WIB
samsung chip RAM
Foto: Istimewa
Jakarta -

Industri teknologi saat ini masih menghadapi krisis chip. Artinya, pencarian handphone atau mobil baru akan lebih sulit karena alat-alat tersebut membutuhkan semikonduktor sebagai 'otak' penggerak alat-alat tersebut.

Investor Paul Meeks memperingatkan Wall Street mengenai kelangkaan semikonduktor ini. Menurutnya, krisis chip ini akan memakan waktu bertahun-tahun, bukan berbulan-bulan untuk diselesaikan.

"Ini mungkin menjadi masalah yang berlanjut hingga tahun 2023," kata manajer portofolio Independent Solutions Wealth Management dikutip dari CNBC, Senin (15/11/2021).

Meeks yang juga dikenal karena menjalankan aliran dana teknologi terbesar di dunia untuk Merrill Lynch mengatakan, beberapa perusahaan bahkan tidak akan bisa mengirimkan produk mereka. Tentunya hal ini akan berpengaruh pada kinerja perusahaan.

"Beberapa dari perusahaan ini sebenarnya tidak akan bisa mengirimkan unit. Dan jika mereka tidak dapat mengirimkan unit, mereka mungkin akan mengecewakan pendapatan mereka," katanya.

Selain itu, saham di industri ini pun diprediksi akan turun drastis. "Saham mereka sangat mahal sehingga bisa turun. Tidak turun sedikit, mereka bisa turun banyak," sambungnya.

Pada Juni 2020 lalu, pembuat chip Meeks memiliki stok yang cukup banyak, sebelum akhirnya beberapa bulan ini kekurangan pasokan. Beruntungnya, ada beberapa perusahaan yang telah menyimpan stok chip dari jauh-jauh hari.

Meeks mencontohkan Broadcom dan Microchip Technology sebagai contoh perusahaan yang berhasil mengadaptasi proses pemesanan mereka sebelum pandemi COVID-19.

"Saya juga suka peralatan modal semikonduktor. Tetapi Anda harus menjadi penembak jitu karena Anda tidak hanya harus menilai apakah produk mereka mendukung atau tidak... Anda juga harus mencari tahu siapa yang paling baik menjalankan rantai pasokan mereka," katanya.

Disisi lain, dia mengkhawatirkan saham FAANG (Facebook, Apple, Amazon, Netflix dan Alphabet (Google), khususnya Apple. "Sekitar 50% bisnis mereka masih berasal dari iPhone. Mereka memiliki kekurangan besar yang telah menghabiskan banyak miliar dolar pendapatan kuartal terakhir," kata Meeks, yang juga mengajar keuangan di The Citadel.

Dia melihat masalah krisis chip ini meningkat pada musim liburan dan banyak konsumen iPhone yang kecewa karena tidak mendapatkan produk mereka tepat waktu.

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT