ADVERTISEMENT

Disemprot Negara Lain Gegara Stop Ekspor Nikel, Jokowi: Nggak Apa-apa!

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 17 Jan 2022 13:26 WIB
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa pemerintah akan terus melakukan hilirisasi industri dari sumber daya alam (SDA) Indonesia. Salah satu upayanya dengan menyetop ekspor bahan mentah atau raw material meskipun dia mengaku disemprot oleh banyak negara.

Salah satu SDA yang sudah dihentikan ekspor raw materialnya adalah nikel. Jokowi menerangkan sekitar 7 tahun lalu ekspor raw material nikel hanya menghasilkan US$ 1 miliar atau berkisar Rp 14-15 triliun.

"Itu kalau kita ekspor dalam bentuk raw material. Begitu kita tidak bolehkan dan harus diproduksi di dalam negeri, saya cek akhir tahun kemarin ekspor kita untuk besi baja, artinya besi baja ini dari nikel menghasilkan US$ 20,8 miliar atau Rp 300 triliun. Dari Rp 15 triliun melompat menjadi Rp 300 triliun dan membuka lapangan kerja yang sangat banyak sekali," terangnya dalam acara Dies Natalis Unpar, Senin (17/1/2022).

Jokowi mengaku, saat masa awal penyetopan ekspor raw material nikel banyak negara yang protes kepadanya. Meski begitu dia tidak peduli dengan itu karena dampak yang dirasakan Indonesia lebih besar. Jokowi juga mengaku tak gentar meski RI digugat ke WTO terkait hal itu.

"Awal-awal memang kita disemprot oleh negara-negara lain, nggak apa-apa kalau hanya disemprot, kita diem. Dibawa ke WTO enggak apa-apa, kita punya argumentasi juga bahwa kita ingin membuka lapangan kerja sebesar-besarnya untuk rakyat kita. Enggak tahu menang atau kalah, ini masih dalam proses di WTO. Ya kita harapkan menang," jelasnya.

Jokowi menegaskan bahwa pelarangan ekspor raw material nikel akan terus dilakukan meskipun saat ini tengah berkasus di WTO. Bahkan pemerintah tidak hanya akan berhenti di nikel, yang terdekat Jokowi akan menyetop ekspor raw material untuk bauksit dan akan disusul oleh produk pertambangan lainnya.

"Karena sekali lagi sekarang bukan eranya menjual bahan mentah, kita harus melakukan hilirisasi industri, kita harus memaksimalkan nilai tambah kekayaan alam yang kita miliki. Bayangkan kalau nikel yang jadi besi baja saja bisa melompat menjadi Rp 300 triliun. Itu enggak tahu, mungkin baru satu, dua turunan, nanti kalau turunannya sampai ke 10 sampai ke 11, 12, nilai tambahnya berapa. Bauksit juga begitu, saya kalkulasi kira kira juga hampir sama. Akan dapat berapa penerimaan negara dari ekspor-ekspor yang kita lakukan," tutur Jokowi.

(das/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT