Terungkap! Harga CPO Sempat Turun Tapi Minyak Goreng Nanjak Terus

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 01 Mar 2022 16:00 WIB
Pekerja melakukan bongkar muat kelapa sawit yang akan diolah menjadi minyak kelapa sawit Crude palem Oil (CPO) dan kernel di pabrik kelapa sawit Kertajaya, Malingping, Banten, Selasa (19/6). Dalam sehari pabrik tersebut mampu menghasilkan sekitar 160 ton minyak mentah kelapa sawit. File/detikFoto.
Harga CPO (Foto: Jhoni Hutapea)
Jakarta -

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan fakta bahwa harga minyak sawit (crude palm oil/CPO) sempat mengalami penurunan sepanjang 2021, setidaknya ada 3 kali penurunan harga CPO yang signifikan.

Namun, di saat harga CPO turun tak diikuti dengan harga minyak goreng. Sebab, harga minyak goreng konsisten mengalami kenaikan secara berkala. Hal itu dijelaskan oleh Deputi Bidang Kajian dan Advokasi KPPU Taufik Ariyanto sambil memperlihatkan grafik harga CPO dan minyak goreng.

"Jadi kalau yang garis oren itu adalah fluktuasi harga CPO di pasar internasional yang kita lihat memang berfluktuasi, intinya bergejolak lah harga CPO mengikuti supply-demand di pasar internasional. Tetapi harga yang biru adalah harga minyak goreng di pasar domestik relatif stabil dan cenderung naik. Jadi sangat berbeda pergerakannya," kata dia dalam webinar Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Selasa (1/3/2022).

Dia menjelaskan ada 3 periode waktu di mana harga CPO di pasar internasional mengalami penurunan. Namun hal itu tidak membuat harga minyak goreng ikut turun.

"Ada lingkaran-lingkaran 3 itu yang di mana kami catat terjadi penurunan harga CPO di pasar internasional, tapi tidak berdampak kepada penurunan harga minyak goreng. Sementara kalau harga CPO-nya naik harga minyak gorengnya langsung naik juga," tuturnya

Dia menjelaskan dalam teorinya itu dinamakan rigiditas pasar, di mana harga komoditi akan menyesuaikan kenaikan harga bahan baku dengan cepat, tapi kalau harga bahan baku turun maka harga komoditinya tidak turun.

"Itu adalah salah satu anomali yang menjadi fokus otoritas persaingan di manapun mengenai rigiditas pasar," papar Taufik.

Terlihat pula pada grafik kedua, di mana fluktuasi dari harga CPO dibanding fluktuasi harga minyak goreng sangat berbeda.

"Jadi ini lagi lagi salah satu ciri di mana pasar yang terkonsentrasi atau oligopoli, di mana pergerakan harganya cenderung kaku makanya disebut rigiditas pasar, karena cenderung kaku, sehingga tentunya perlu pengawasan lebih lanjut, lebih ketat dari otoritas persaingan," tambahnya.

Lihat juga Video: Begini Antrean Warga Cibaduyut Demi Dapat Minyak Goreng

[Gambas:Video 20detik]



(toy/dna)