Boeing Gandakan Target Produksi Mulai Akhir 2023, Sinyal Akhir Pandemi?

ADVERTISEMENT

Boeing Gandakan Target Produksi Mulai Akhir 2023, Sinyal Akhir Pandemi?

Iffa Naila Safira Widyawati - detikFinance
Sabtu, 05 Mar 2022 19:00 WIB
Pabrik Boeing San Antonio
Foto: CNN
Jakarta -

Perusahaan pesawat multinasional asal Amerika Serikat, Boeing Company merencanakan penggandaan target produksi sebanyak 47 pesawat per bulannya mulai akhir 2023. Demikian dikutip dari CNN, Sabtu (5/3/2022).

Setelah memangkas produksinya karena pandemi, Boeing dan saingannya yaitu Airbus SE melihat lebih banyak peningkatan permintaan di jet penumpang dengan jarak menengah. Mereka berdua pun sepakat memenuhi permintaan tersebut.

Produksi pesawat Boeing sempat berubah-ubah karena dipengaruhi dari banyak faktor. Keraguan yang selalu ada di benak mereka terus muncul, apakah nantinya bisa memenuhi rencana peningkatan ini terutama di Eropa.

Adanya kekurangan tenaga kerja, bahan, perhitungan neraca yang lemah dan krisis dari masalah pesawat 737 MAX, membuat pemasok ragu dalam memenuhi rencana ambisi peningkatan oleh Boeing.

Boeing mengatakan pada akhir Januari lalu bahwa pihaknya tengah mengosongkan 335 inventaris pesawat 737 MAX menyusul dua kecelakaan fatal jet yang mengandangkan pesawat itu selama 20 bulan. Diperkirakan sebagian besar jet tersebut akan dikirim kembali pada akhir 2023.

Boeing sendiri menolak mengomentari rencana produksinya dan merujuk pada pernyataan publik terakhirnya.

Pada akhir Januari, Chief Financial Officer Brian West mengatakan program produksi 737 telah berhasil memproduksi 27 jet per bulan, bahkan mencapai 31 per bulan.

Dua orang mengatakan langkah bulanan 31-jet akan datang selama paruh kedua tahun ini, meskipun orang ketiga mengatakan itu bisa terjadi lebih cepat.

Di luar itu, sumber mengatakan Boeing bertujuan meningkatkan produksi jet narrowbody jadi sekitar 38 setiap bulannya selama paruh pertama tahun 2023, dan mencapai sekitar 47 jet per bulan pada paruh kedua tahun 2023.

Artinya, Boeing meningkatkan produksi nyaris dua kali lipat pada akhir 2023. Meski demikian rencana tersebut dapat berubah karena kendala rantai pasokan atau faktor lainnya.

(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT