Jokowi Sentil Impor Alkes, Kemenkes: Dalam Negeri Kurang Baik

Aldiansyah Nurrahman - detikFinance
Jumat, 08 Apr 2022 12:52 WIB
Produk diagnostik kesehatan sangat dibutuhkan untuk mengetahui dengan cepat di lapangan apakah seorang terjangkit suatu penyakit atau terinfeksi virus seperti COVID-19.
Ilustrasi/Foto: Rachman_punyaFOTO
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum lama ini meluapkan kejengkelannya terkait banyaknya alat kesehatan (alkes) yang masih diimpor. Menanggapi hal itu, Staf Khusus Menteri Kesehatan bidang Ketahanan Industri Obat dan Alkes, Laksono Trisnantoro mengungkapkan penyebab maraknya impor alkes.

Ia menyampaikan salah satu penyebabnya ada persepsi di kalangan dokter dan rumah sakit, produk alkes luar negeri lebih baik dari produk dalam negeri.

"Ini dokter banyak yang berpendapat bahwa alat dalam negeri itu tidak bermutu atau kurang baik dibanding dengan milik Jerman atau Jepang. Bahkan dulu China pun dianggap jelek, tapi sekarang dianggap baik," jelasnya, saat acara virtual Mengapa Alat Kesehatan Indonesia Belum Mandiri Juga?, Jumat (8/4/2022).

Laksono mengatakan persepsi akan merek di kalangan dokter itu sangat penting untuk alkes. Terlebih, jarang ada kampanye bangga bangga membeli buatan alat sendiri di kalangan dokter.

"Karena yang pakai alkes itu dokter, lho, bukan pembeli langsung. Saya sebagai pasien tidak akan minta 'ini plat besi saya untuk ortopedi pakai buatan Indonesia', tidak. Itu adalah buatan Jerman ada buatan Pakistan, pasien tidak tahu. Yang tahu siapa? Dokternya," tutur dia.

Selain persepsi dokter, Laksono menyampaikan penyebab impor alkes itu karena e-katalog tidak efektif. Kemudian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk alkes masih bermasalah atau belum jadi.

"TKDN untuk alkes itu masih menggunakan yang Kemenperin 2011 pembuatannya," katanya.

Ia membenarkan apa yang disampaikan Jokowi soal impor ini. "Tapi kenyataannya memang situasinya masih dari segi e-katalog, TKDN belum beres dan juga kultur dalam rumah sakit itu masih senang (produk) luar negeri," pungkas dia.

(eds/eds)