ADVERTISEMENT

Philip Morris Tak Andalkan Cuan dari Jual 'Rokok' Lagi di 2025

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 22 Apr 2022 10:00 WIB
Philip Morris Indonesia
Produk rokok bebas asap Sampoerna/Foto: Aulia Damayanti
Jakarta -

President South & Southeast Asia Region, Philip Morris International (PMI), Stacey Kennedy menargetkan pendapatan PMI tak lagi mengandalkan produk rokok dibakar pada 2025. Tetapi dengan mengandalkan produk rokok bebas asap.

"Pada tahun 2025 kami berambisi bahwa 50% dari pendapatan bersih kami berasal dari produk bebas asap rokok dan bukan dari rokok," katanya saat ditemui di kantor PT HM Sampoerna Tbk di One Pacific Place, SCBD, Kamis (21/4/2022) kemarin.

Hal itu ditegaskan menjadi visi untuk Indonesia terutama dalam mengembangkan investasi dalam produk rokok bebas asap. Targetnya, tidak hanya untuk kepentingan masyarakat Indonesia, tetapi juga untuk mendukung perekonomian Indonesia.

"Untuk mengekspor produk tersebut seperti yang dijelaskan Mindaugas (President Director PT HM Sampoerna Tbk), bagian dari filosofi tiga tangan kami," tambahnya.

Salah satu upaya dalam mengembangkan produk rokok bebas asap ini dengan membangun pabriknya di Indonesia. Seperti diketahui, PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) mulai membangun pabrik rokok bebas asap pada 2021 lalu di Karawang, Jawa Barat, Indonesia.

Investasi untuk fasilitas tersebut totalnya senilai US$ 166,1 juta atau setara Rp 2,3 triliun. Pabrik itu rencananya akan memproduksi batang tembakau bagi IQOS, dengan merek HEETS.

IQOS sendiri merupakan sistem pemanas batang rokok HEETS. Makanya, rokok bebas asap ini bukan lagi dibakar, melainkan dipanaskan. Stacey dengan memanaskan rokok, maka akan mengurangi zat-zat berbahaya dalam tembakau rata-rata 90-95%, dibandingkan dengan rokok dibakar.

"Itulah yang membuat (produk tembakau bebas asap) menjadi produk yang lebih baik," ungkapnya.

"Kita juga tahu produk itu lebih baik karena perlu diterima oleh konsumen. Jadi Anda bisa membuat produk yang lebih baik tetapi konsumen tidak menyukainya. Jadi kami mencoba membuatnya serupa dengan pengalaman merokok, tetapi dengan senyawa berbahaya yang jauh berkurang," tambahnya.

Stacey menargetkan produk IQOS dan HEETS tidak hanya diperjual belikan di Indonesia, tetapi bisa diekspor ke Asia Tenggara.

"Ini sangat penting karena akan memungkinkan kami untuk dapat mengembangkan jejak IQOS dan bahan habis pakai (produk tembakau yang dipanaskan) kami di Indonesia. Dan kami juga ingin dapat mengekspor, utamanya ke Asia Tenggara, tetapi juga berpotensi untuk lebih dari itu," tuturnya.

Sementara saat ini, Philip Morris telah memasarkan produk IQOS di 71 negara di dunia pada akhir tahun 2021. Stacey menargetkan bisa dipasarkan di 100 negara pada tahun 2025.

"Dan penting untuk dicatat bahwa lebih dari 30 negara di mana IQOS berada saat ini ialah negara-negara berkembang (LMIC), jadi ini tentang produk yang lebih baik untuk semua orang. Dan kami juga ingin dapat memperluasnya ke Asia Selatan dan Tenggara," tutupnya.

(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT