ADVERTISEMENT

Petani Tembakau Punya Ancaman Baru, Apa Itu?

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Senin, 27 Jun 2022 14:17 WIB
SUMEDANG, INDONESIA - 2022/06/20: A woman farmer arranges trays of tobacco drying in Sumedang. The majority of residents in this village work as tobacco farmers, a profession they have passed on from generation to generation. When visiting this village, we will see expanses of tobacco drying under the sun filling the village roads, roofs and terraces of houses. This village is able to meet market demand from all Indonesian provinces including West Java, Bali and Sumatra. Some produce is even exported abroad, to places such as Pakistan, Malaysia and Turkey. (Photo by Algi Febri Sugita/SOPA Images/LightRocket via Getty Images)
Foto: Algi Febri Sugita/SOPA Images/LightRocket/Getty Images
Jakarta -

Awali masa Tanam Raya, petani tembakau harus menghadapi banyak tantangan. Selain akibat cuaca buruk yang mengundur waktu tanam, tekanan-tekanan kuat kian menyudutkan komoditas tembakau. Ketua Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN-APTI) Soeseno menjelaskan, saat ini komoditas tembakau tak hanya diterjang isu kesehatan melainkan juga isu lingkungan.

"Apalagi sejumlah regulasi baik di tingkatan nasional dan regional juga memiliki dampak negatif kepada petani tembakau di sisi hulu ekosistem pertembakauan," ungkapnya saat menghadiri tanam raya tembakau di Desa Samatan, Kecamatan Proppo pekan lalu.

Padahal menurutnya, tembakau punya kontribusi besar terhadap penerimaan negara. Salah satunya penyerapan kerja. Soeseno bilang saat ini setidaknya terdapat lebih dari enam juta tenaga kerja pada ekosistem industri tembakau yang terdiri atas 2,5 juta petani tembakau, 1,5 juta petani cengkih, 2 juta tenaga di sektor pengolahan hingga industri kreatif dalam ekosistem industri tembakau.

Kampanye negatif yang terus mendesak regulasi ekosistem tembakau yang ketat disebut Soeseno akan berdampak terhadap 6 juta masyarakat yang bekerja di ekosistem tersebut, baik secara ekonomi maupun sosial budaya.

Sebab di beberapa wilayah Indonesia, tembakau telah menjadi bagian dari budaya dan merupakan warisan turun-temurun. Termasuk pengaruh narasi kenaikan cukai tinggi yang pasti akan berpengaruh kepada mata rantai ekosistem tembakau.

"Di wilayah Madura salah satunya. Tembakau bagi masyarakat Madura merupakan kultur budaya warisan leluhur. Pulau Garam sebagai salah satu jantung pertembakauan nasional juga harus tetap hidup," sambung Soeseno.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam yang hadir dalam kesempatan itu juga menyepakati hal tersebut. Bagi masyarakat Madura, tembakau telah menjadi budaya sekaligus warisan turun-temurun. Ia menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten Pamekasan pun memiliki komitmen yang sama terhadap pelestarian tembakau sekaligus memperjuangkan nasib para petani tembakau.

Tamam menambahkan, kesejahteraan petani tembakau juga telah menjadi prioritas pemerintah daerah dalam upaya pembangunan masyarakat desa. Pemkab Pamekasan misalnya telah memberikan fasilitas peralatan dengan penyediaan traktor tangan sampai akses permodalan yang mudah dan murah.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT