ADVERTISEMENT

Luhut Jengkel Harga Sawit RI Ikut Malaysia: Bangsa Kita Tak Bisa Diatur Orang

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 08 Jul 2022 10:53 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan/Foto: KEMENKO MARVES
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengaku jengkel selama ini harga sawit di Indonesia masih harus mengikuti standar yang ditetapkan Malaysia. Hal ini membuat Indonesia bagaikan diatur oleh negara tetangganya.

Luhut menyatakan Indonesia sebagai bangsa besar harus bisa berdiri sendiri. Dia tidak ingin harga sawit Indonesia terus diatur Malaysia.

"Bangsa kita tak bisa diatur orang, kita harus atur diri kita! Harusnya kita atur minyak kelapa sawit dunia. Masak dari Kuala Lumpur? Yang bener aja lah," tegas Luhut dalam Rapat Koordinasi AKPSI, di Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Kamis (7/7/2022).

Nah saat ini pemerintah mulai mengarahkan diri untuk bisa mengatur tata niaga kelapa sawit dunia. Apalagi Indonesia punya modal sebagai negara produsen kelapa sawit besar di dunia.

Lewat audit ini, Indonesia bisa memperbaiki tata kelola sawitnya sehingga bisa ikut mengelola sawit dunia. Luhut sangat yakin Indonesia dapat melakukannya.

"Sekarang audit ini tujuan kita buat itu. Biar kita bangsa yang besar ini bisa ngatur dunia juga, jangan kita yang diatur mulu. Kelapa sawit kita bisa atur sekarang, saya yakin haqqul yakin. Asal kita bisa bekerja bersama-sama," kata Luhut.

Selama ini, Malaysia menentukan harga komoditas sawit dan CPO dunia, termasuk untuk Indonesia melalui Bursa Malaysia Derivatives (BMD). BMD sudah memiliki riwayat dalam perdagangan CPO sejak 1980.

Keberadaan serta peran dari BMD menyebabkan harga CPO dunia salah satunya ditetapkan dan mengacu kepada mata uang ringgit Malaysia. Selain itu harga komoditas sawit dan CPO juga ditentukan oleh dolar Amerika Serikat (AS).

Lihat juga video 'Luhut Minta BPKP Audit Perusahaan Sawit: Jangan Mau Diatur-atur!':

[Gambas:Video 20detik]



(hal/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT