ADVERTISEMENT

Pabrik di China Diminta Perketat Operasi demi Tekan Kasus COVID-19

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 25 Jul 2022 21:00 WIB
HUAIBEI, CHINA - OCTOBER 17: An employee works on the production line of aluminum foil at a factory on October 17, 2021 in Huaibei, Anhui Province of China. (Photo by Li Xin/VCG via Getty Images)
Ilustrasi Pabrik di China/Foto: VCG via Getty Images/VCG
Jakarta -

Ratusan perusahaan di Shenzen, China, diminta pemerintah setempat untuk membuat sistem kerja tertutup untuk menerangi COVID-19. Permintaan itu diberikan kepada perusahaan besar seperti pabrik pembuat iPhone, Foxconn.

Dilansir Reuters, Senin (25/7/2022), informasi ini beredar pada sebuah dokumen yang dikaitkan dengan pemerintah setempat yang beredar online.

Di sisi lain, sebuah pemberitahuan di kantor raksasa minyak CNOOC Ltd di Shenzhen menyebut gedung kantor pusatnya akan ditutup selama tujuh hari hingga 31 Juli. Stafnya diminta bekerja dari rumah dan melanjutkan pekerjaan dengan tes COVID-19 setiap hari.

Foxconn yang berbasis di Taiwan mengatakan operasi di fasilitas produksinya di Shenzhen masih berjalan dengan normal dan akan mengikuti pedoman pemerintah untuk memastikan produksi yang aman. Selama lockdown pada April dan Mei, pusat ekonomi China di Shanghai ini berusaha menjaga pabrik tetap buka di bawah operasi yang tertutup.

Staf diminta tinggal dan bekerja di tempat. Otoritas Shenzhen melaporkan 21 infeksi COVID-19 yang ditularkan secara lokal pada hari Minggu, naik dari 19 hari sebelumnya.

Shenzhen belum memerintahkan penutupan bisnis atau pembatasan ketat pada pergerakan orang, tetapi telah menyegel kompleks perumahan dan bangunan yang diidentifikasi berisiko lebih tinggi. Banyak aktivitas di kantor, restoran, dan ruang publik memerlukan bukti tes COVID dalam waktu 24 jam.

(hal/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT