Garis Pantainya Terpanjang Kedua di Dunia, Kok RI Masih Impor Garam?

ADVERTISEMENT

Garis Pantainya Terpanjang Kedua di Dunia, Kok RI Masih Impor Garam?

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 05 Agu 2022 14:52 WIB
Cuaca ekstrem berdampak pada para petani kopi dan garam di berbagai wilayah Indonesia. Mereka mengaku mengalami penurunan produksi akibat anomali cuaca.
Foto: Antara Foto
Jakarta -

Sebagai negara kepulauan Indonesia memiliki garis pantai yang cukup panjang. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan jika garis pantai Indonesia membentang sepanjang 95.181 km atau terpanjang kedua di dunia.

Meski punya garis pantai yang panjang, nyatanya Indonesia masih mengimpor garam untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Lalu, apa yang menjadi masalah?

Ketua Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Tony Tanduk menjelaskan tiga masalah yang menyebabkan Indonesia masih melakukan impor garam.

"Pertama, luas lahan kecil-kecil. Hamparan lahan minimum seribu hektar, tapi lahan kita kan rata-rata 2 hektare," katanya di gedung Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jumat (5/8/2022).

Kapasitas lahan yang kurang membuat petani sulit memenuhi kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan. Selain itu, biaya produksinya juga tergolong tinggi.

Masalah kedua adalah minimnya penggunaan teknologi di kalangan petani garam. Petani garam Indonesia masih mengandalkan cangkul dalam memproduksi garam.

Ketiga, sektor transportasi juga menghambat proses produksi garam lokal. Tony menyebut biaya transportasi untuk garam tergolong tinggi, bahkan bisa seharga dengan produk garam itu sendiri.

"Ketiga, transportasi ke gudang, ke pasar, itu yang perlu didukung pemerintah. India kan truk sudah masuk ke ladang garam," katanya memberikan contoh.

Sementara itu, Plt Dirjen Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Ignatius Warsito menyebut jika pemerintah terus melakukan upaya perbaikan lewat bimbingan, pelatihan hingga edukasi. Namun, ia mengakui jika kualitas garam nasional belum bisa mencapai kristal garam yang diharapkan. Ia menyebut hal ini masih menjadi PR bersama.

Warsito menyampaikan alasan lain mengapa Indonesia masih mengimpor garam. Hal ini terjadi karena petani garam lokal belum mampu memenuhi target kebutuhan garam industri nasional yang mencapai 3,7 juta ton.

"Bukan tidak bisa diproduksi dalam negeri, kapasitas dalam negeri itu belum bisa (memenuhi) 3,7 juta itu," pungkasnya.

(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT