ADVERTISEMENT

Menyoal Waktu 'Kelahiran' Vaksin Indovac Kala Pandemi Reda

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 22 Agu 2022 21:00 WIB
Tujuan vaksin booster sebenarnya sebagai proteksi terhadap varian baru Corona yakni Omicron. Apa saja tujuan vaksin booster?
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti
Jakarta -

Vaksin BUMN akan segera dirilis. Vaksin COVID-19 yang diberi nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) Indovac itu tengah menunggu Izin Penggunaan Darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) diperkirakan keluar pada pekan pertama atau kedua September 2022.

Lahirnya vaksin ini pun akan menimbulkan pertanyaan, apalagi di tengah pandemi COVID-19 yang mereda.

Direktur Utama PT Bio Farma (Pesero) Honesti Basyir menjelaskan, vaksin tersebut akan diberikan gratis ke masyarakat.

"Itu gratis, pemerintah yang bayar. Jadi APBN, masyarakat menikmati," katanya dalam acara Ngopi BUMN di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (22/9/2022).

Produksi vaksin ini akan tetap berjalan meski pandemi mereda. Di tahun ini, vaksin itu digunakan untuk menjalankan program pemerintah dengan menggunakan anggaran negara.

Jika ke depan sudah tidak ada anggaran negara dan pandemi berubah status menjadi endemi, maka vaksin ini akan diberlakukan seperti halnya vaksin flu. Nantinya, vaksin tersebut akan berbayar.

"Nggak berhenti, nanti kita lihat kalau seandainya sekarang pemerintah pakai APBN kita kasih pemerintah semua. Tapi kalau tahun depan nggak ada lagi, pandemi ini cabut, masuk ke endemi ya kaya vaksin flu aja, jadinya berbayar. Tapi sekarang masih fokuskan program pemerintah," terangnya.

Jelasnya, vaksin ini berbasis rekombinan. Pengembangan vaksin ini merupakan kerja sama dengan Baylor College of Medicine (BCM).

"Ini berbasis rekombinan kita kerja sama dengan Baylor University College Medicine," tambahnya.

Soal harga, Honesty mengatakan, harga vaksin itu diusahakan di bawah Rp 100 ribu.

"Harga nanti mungkin akan kita usahakan di bawah Rp 100 ribu karena prosesnya mostly dilakukan 80% itu kita lakukan prosesnya di Indonesia," katanya.

(acd/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT