ADVERTISEMENT

Mantap! Ekspor Makanan dan Minuman RI Tembus Rp 315,24 T!

Ilyas Fadhillah - detikFinance
Jumat, 09 Sep 2022 16:21 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018). Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tetap jalan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpuruk. Begini suasananya.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Industri makanan dan minuman (mamin) nasional tumbuh selama pandemi COVID-19. Meski terdampak pandemi COVID-19, tercatat industri mamin tumbuh 3,68% selama kuartal II 2022.

Angka ini meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama di tahun 2021 yang hanya sebesar 2,95%. Industri mamin mencatatkan nilai ekspor mencapai US$ 21,3 miliar atau Rp 315,24 triliun (kurs Rp 14.800) pada periode Januari-Juni 2022.

"Selain itu, pada Januari-Juni 2022, ekspor industri makanan dan minuman mencapai US$ 21,3 miliar, meningkat 9% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2021 sebesar US$ 19,5 miliar," ungkap Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulisnya, Jumat (9/9).

Industri mamin berkontribusi 38,38% terhadap PDB industri nonmigas sehingga menjadi sub sektor dengan kontribusi PDB terbesar di Indonesia.

Kinerja gemilang lainnya dari industri mamin, yakni mampu menarik investasi sebesar Rp 21,9 triliun hingga kuartal II tahun 2022 dan menyerap tenaga kerja hingga 1,1 juta orang.

"Kami optimistis akan ada kontribusi yang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan banyak peluang yang tersedia ketika industri makanan dan minuman terus tumbuh dan menjadi lebih kompetitif," tutur Agus.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian terus berupaya meningkatkan performa industri mamin melalui perpaduan kebijakan fiskal dan nonfiskal. Adapun insentif fiskal yang telah diusulkan, antara lain tax holiday, tax allowance, super tax deduction, dan Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP).

"Insentif tersebut sebagai salah satu strategi untuk mendorong investasi, penguasaan teknologi, serta penguatan struktur industri yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan industri sepanjang memenuhi kriteria yang telah ditentukan," papar Agus.

Sedangkan untuk kebijakan nonfiskal, di antaranya adalah memfasilitasi promosi produk industri mamin melalui pameran di dalam maupun luar negeri.

Dalam rangka mengikuti arah peta jalan Making Indonesia 4.0 dan perkembangan transformasi digital, Kemenperin berkomitmen untuk mendukung pengembangan sektor manufaktur melalui percepatan implementasi industri 4.0. "Kebijakan ini merupakan keniscayaan untuk mentransformasikan industri agar lebih efisien dan mampu bersaing dalam skala regional dan global," imbuhnya.

Salah satu industri prioritas yang termasuk dalam program Making Indonesia 4.0 adalah industri mamin, mengingat kontribusinya yang besar terhadap PDB dan kontribusi ekspor yang tinggi, serta penyerapan tenaga kerja yang relatif besar.

Kemenperin memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan pameran Food ingredients Asia (FI Asia) 2022 yang diselenggarakan beberapa waktu lalu di Jakarta. Kegiatan ini menjadi ajang promosi yang penting bagi pelaku industri mamin karena terhubung dengan industri bahan baku.



Simak Video "Alasan Direktur Unilever Indonesia Mengundurkan Diri"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT