Kimia Farma Produksi Bahan Baku Obat, Bisa Tekan Impor Hingga Rp 3,7 T

ADVERTISEMENT

Kimia Farma Produksi Bahan Baku Obat, Bisa Tekan Impor Hingga Rp 3,7 T

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 03 Okt 2022 13:49 WIB
Direktur Utama PT Kimia Farma, David Utama
Direktur Utama Kimia Farma, David Utama/Foto: Shafira Cendra Arini/detikcom
Cikarang -

Produk impor masih membanjiri industri bahan baku obat (BBO) dalam negeri dengan jumlah mencapai 95%. Oleh karena itu, pemerintah berupaya membangun industri BBO lewat BUMN, yakni Kimia Farma.

PT Kimia Farma Tbk (KAEF) melalui anak usahanya, PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) menjadi pionir pabrik bahan baku farmasi di Indonesia. Perusahaan yang berdiri sejak 2016 ini sudah membangun 12 BBO yang telah memenuhi standar GMP, BPOM, dan sertifikasi halal.

Direktur Utama Kimia Farma, David Utama menargetkan produksi 28 BBO bisa tercapai pada 2024. Dengan demikian, impor BBO bisa berkurang hingga 20%.

"Kami akan mengembangkan dan memproduksi total 28 BBO yang akan diproduksi sampai 2024. Diharapkan akan menurunkan impor sebesar 17-20%," kata David dalam konferensi pers di PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia, Cikarang, Senin (03/10/2022).

Apabila penurunan impor BBO dapat terwujud, pemerintah dapat berhemat hingga Rp 3,7 triliun. Ia menjelaskan, di setiap tahunnya produksi BBO KFSP bisa menekan impor sejak 2020.

Tidak hanya itu, langkah ini diambil pemerintah demi mencapai ketahanan nasional. Apalagi, hingga kini Indonesia masih berada dalam era pandemi Covid-19. Oleh karena itu, David mengatakan, langkah strategis ini dimaksudkan demi mendorong kemandirian Indonesia dalam industri farmasi dari hulu ke hilir.

Direktur Utama PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia, Pamian Siregar mengatakan, hingga kini dari segi komersial, BBO-nya baru dipergunakan untuk keperluan produksi Kimia Farma karena ada beberapa tantangan.

"Salah satu tantangannya itu kan proses change source-nya ya. Waktunya itu cukup lama, 1.5-2 tahun," ujar Pamian, dalam kesempatan yang sama.

Direktur Utama PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia Pamian SiregarDirektur Utama PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia Pamian Siregar Foto: Shafira Cendra Arini/detikcom

Lebih lanjut tantangan berikutnya yaitu harga BBO lokal yang lebih mahal dari BBO impor dengan selisih sekitar 25%. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan telah membantu industri obat melalui pendanaan demi mendorong perusahaan terkait untuk menyerap suplai BBO dari KFSP. Harapannya, kata Pamian, pada November tahun ini sudah ada beberapa perusahaan yang menyerap.

"Tahun ini yang sudah mulai (menyerap) itu Dexa Medica. Nah ini yang nanti pada saat HKN itu, Hari Kesehatan Nasional, mereka akan men-declare berapa kemampuan mereka menyerap," ungkapnya.

Selain Dexa, Pamian mengatakan, akan ada beberapa perusahaan obat lainnya seperti Phapros, Novell, Pyridam, serta Farenheit. Di sisi lain, ia menegaskan, pemerintah mengambil langkah dengan produksi BBO dalam negeri bukan untuk menyaingi harga BBO produksi luar seperti China dan India, melainkan untuk ketahanan nasional. Pasalnya, harga BBO impor terbilang lebih murah, yang produksinya untuk kebutuhan global.

Pamian juga menyampaikan, KFSP merupakan pabrik untuk produksi nasional. Oleh karena itu selain kebutuhan komersial, pihaknya juga perlu melihat kebutuhan kebutuhan obat dalam negeri, dalam hal ini Kementerian Kesehatan

"Misalnya obat HIV AIDS, ini kan masih impor kita. Secara nasional value-nya tidak besar, tetapi kan Menkes ingin ini diproduksi dalam negeri demi ketahanan. Makanya kita produksi juga, sehingga seberapa besar kebutuhannya juga beda-beda.

Di kawasan KFSP ada dua tempat produksi, antara lain pabrik produksi khusus Iodine dan multi purpose. Untuk produksi iodine, Pamian menyampaikan, per tahunnya bisa mencapai 150 ton. Sedangkan untuk pabrik multi purpose-nya, ada di kisaran 70-100 ton per tahunnya.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT